Menjadi Gembel Seorang Diri

Hampir semua orang pasti senang jika salah satu resolusi mereka terwujud. Aku juga begitu. Terlalu berlebihan memang menyebutnya resolusi: solo traveling. Sudah dua kali aku nggembel seorang diri. Pertama ke Gunung Padang Cianjur dan yang kedua ke Dieng Banjarnegara/Wonosobo. Untuk seorang proletar seperti aku, lumayanlah dua tempat itu. Maklumlah, aku belum mampu ke luar Jawa dan boro-boro ke luar negeri. Hahahahaa..

Diambil dari jalan menuju Sikidang
Diambil dari jalan menuju Sikidang

Dieng. Sudah lama sekali aku ingin mengunjungi Dieng dan baru beberapa waktu lalu keinginan itu terlaksana. That was actually my teenage dream and I made it in my 26. What a time. Tak perlu dijelaskan lah kenapa baru terwujud sekarang. Ada rasa sayang ketika aku beranjak meninggalkan tempat itu. Mungkin ini terdengar lebay: tapi aku benar-benar terharu ketika aku menjejakkan kakiku di Dieng, mengunjungi tempat-tempat wisata di sana, meskipun belum seluruhnya, dan oh my, aku bahkan belum sempat mencicipi mie ongklok. Padahal penjual mie ongklok bertebaran di Dieng.

Jadi begini, rencana awal aku ingin mampir ke alun-alun Wonosobo sebelum pulangdan makan mie ongklok di sana. Tapi pas perjalanan pulang, bus tuyul yang aku tumpangi terjebak macet di Tieng hampir dua jam. Alhasil, aku yang tadinya memperkirakan bakal sampai di Mendolo sektar jam 3 sore malah molor jadi jam 5.

Dari Atas the-so-called "Batu Rata"
Dari Atas the-so-called “Batu Rata”

               But I can’t play back time. Suatu saat nanti aku pasti kembali ke Dieng. Aamiin. Aku masih merindukan kesejukan udaranya, atmosfirnya yang menjadi everybody’s home, tempat di mana kau bisa jalan-jalan menikmati tenggelamnya matahari di kebun sayur dekat pemukiman penduduk sembari mengamati pohon carica dan bunga di pucuk daun bawang. Itulah jalan-jalan paling memorable yang aku rindukan dari tempat itu. Sayang sekali, waktu itu aku tidak membawa ponsel sehingga aku tidak mengabadikan pemandangan itu.

               Karena aku bepergian ketika long weekend, otomatis waktu itu rame banget. Melihat orang-orang itu bersama teman atau keluarga mereka, ada rasa iri juga sebenarnya. Tapi aku sudah memilih sendiri. Aku cukup mengamati mereka dan jalan-jalan yang aku lalui dan rasa the-so-called kesepian itu terlupakan dengan sendirinya.

            

Gunung Padang
Gunung Padang

   Overall, perjalanan nggembelku ke Dieng jauh lebih baik daripada ketika aku pergi ke Gunung Padang. Perjalanan ke Gunung Padang benar-benar sangat spontan dan aku hanya memerlukan waktu kurang dari satu jam untuk packing dan dress up. Waktu itu aku berpikir, hanya Karawang-Gunung Padang, paling banter seperti Pekalongan-Solo/Yogya. Dan itu asli ngawur banget. Aku tidak mempertimbangkan lalu lintas dari Karawang-Jakarta yang macetnya naudzubillah atau jalan di daerah Puncak yang padat merayap ketika akhir pekan. Aku sampai di Gunung Padang sekitar jam 20.30. Sudah tidak ada angkot sehingga terpaksa aku carter mobil, sendiri, yang pastinya mihil, ditambah hujan angin pula. Hohohoo.. Kalau ingat itu aku jadi geli sendiri.

               Namun begitu, dari perjalanan, lebih seru ke Gunung Padang. Banyak hal-hal baru yang aku lihat. Aku belum pernah ke Bogor, eh ndilalah aku merasakan macetnya Kota Bogor walaupun itu cuma sekitar Baranangsiang-stasiun PP. Perjalanan ke Cianjur dengan Elf putih dan melewati jalan alternatif juga tak kalah seru dan absurd. Di perjalanan itu aku ketemu orang Arab yang numpang Elf putih di Puncak dan dia hanya membawa uang Real. Rupiah yang ada di kantongnya hanya selembar lima puluh ribuan dan dua atau tiga lembar dua ribuan. Kocaknya lagi, dia juga tidak bisa bahasa Inggris dan boro-boro bahasa Indonesia. Bisa dibayangkan bagaimana semrawutnya ketika dia hendak membayar. Untung saja ada ibu-ibu yang mengerti Bahasa Arab sehingga dia menjadi interpreter dadakan bagi sopir dan orang Arab tadi. Ada pula mbak-mbak cantik yang kebetulan turun bareng orang Arab itu dan memberitahunya berapa uang yang seharusnya dia bayar.

              

Gunung Padang Pilihan Untuk Yoga/Semedi
Gunung Padang Pilihan Untuk Yoga/Semedi

Sebenarnya ada perasaan was-was ketika aku akan melakukan perjalanan seorang diri. Namun perasaan itu hilang dengan sendirinya ketika aku sudah merasakan kenyamanan di dalam angkutan atau berjalan-jalan baik itu tentu arah atau tidak – dan alhamdulillah semua baik-baik saja. Perasaan was-was itu juga hilang ketika menyadari aku tidak sendirian di perjalanan. Banyak orang di sekitarku yang juga melakukan perjalanan.

            

Tempatku Menginap di Gn Padang
Tempatku Menginap di Gn Padang

   Aku tergolong penggembel yang manja. Bagaimana tidak, aku lebih memilih angkutan umum dan jalan kaki daripada naik sepeda motor sendiri. Alasannya sederhana saja. Kalau naik angkutan umum kan aku tidak sepenuhnya bertanggungjawab atas keselamatan di jalan, udah gitu bisa tidur pula. Jalan kaki adalah alat transportasi paling fleksibel buatku. Sedangkan kalau naik sepeda motor, ugh, untuk saat ini hell no. Aku belum menguasai keahlian otomotif yang mumpuni.    

               Nggembel. Aku tidak begitu suka menyebut perjalananku sebagai “traveling.” Nggembel atau mbolang terasa lebih masuk akal bagiku. Ya, kapan lagi aku bisa menikmati sebenar-benarnya me time jika bukan di jalan. Ada yang bilang there is no past on the road. Bener banget. Nyaris tidak ada yang mempertanyakan masa lalumu ketika kau traveling, terlebih sendirian. Pertanyaan paling banter hanya sebatas “Dari mana?”, “Hendak ke mana?”, “Kerja/kuliah?”. So simple dan jika kau tidak ingin menjawabnya atau ketika percakapan terasa aneh ya tinggal pergi atau tidur atau dengerin musik dari ear plug aja. Hahahaa..

               Ternyata orang-orang (asing) tidak sejahat yang aku pernah duga. Selalu saja aku menemukan orang-orang baik dan murah hati di jalan – mulai dari sopir angkot, pedagang kaki lima, pedagang nasi, pemilik homestay, penduduk lokal, penjaga loket, sesama traveler/penggembel, dan lain sebagainya. Ketika kau berjalan dan tiba-tiba ada mobil pick up yang menawarimu tumpangan, padahal kau tidak pernah mengharapkanya – adalah contoh kecil kehangatan jalan yang membuatmu akan selalu mengingat mereka, walaupun kamu lupa atau bahkan tak tahu nama mereka.

               Setelah ke Dieng, aku belum merencanakan akan ke mana lagi. Selain karena waktu yang terbatas, aku juga harus memilih tempat mana saja yang aman (dan ekonomis tentunya, hihihii) untuk aku kunjungi. Dibandingkan dengan para solo traveler hebat di luar sana, aku sadar, aku mah apa atuh. Aku juga sadar diri dengan mencoba mengenali apa yang sebenarnya aku butuhkan. Jujur saja, aku tidak bermaksud latah atau bersikap sok kekinian dengan meniru gaya hidup mereka. Aku tidak meniru sama sekali kecuali beberapa tips yang mereka bagikan di blog mereka. Sebenarnya sudah dari jaman kuliah aku ingin menggembel seorang diri. Akhir-akhir ini terbersit satu nama tempat: Aceh. Can I make it? Oh, tentunya aku harus nabung duluu..

               Oh ya satu lagi, aku juga punya tips. Para penggembel cewek tak usahlah dandan terlalu wah (tips standar). Satu tips lagi, ke mana pun kamu memutuskan pergi, sendirian atau bareng-bareng, itu terserah kamu (tips ngawur). Oh ya, bepergian bukan hanya untuk ajang pamer keeksisan dengan foto sana-sini. Sebenarnya, nggembel lebih menarik ketika kita sedikit foto-foto. Simpan gadgetmu di saku atau tas, dan nikmati, amati setiap momen di perjalananmu itu.

Jika kau bukan tipe orang yang suka atau jarang bepergian, tak apalah. Berarti kau beruntung tak kekurangan orang-orang yang mempedulikanmu dan kau berada di tempat where you belong. Jika kau bosan dan merasa terjebak di tempat yang itu-itu saja, ya, mungkin coba saja lebih banyak membaca dan berjalan-jalan di lingkungan sekitar. Tak ada salahnya merasa bosan. Get into the thickness of boredom and you may find the most unimaginable thing(s) you’ve ever had.

Menanti Matahari
Menanti Matahari

*Karawang, Agustus 2015

Rizky Amalia

[Hanya] Mata

purple-fairy-beautiful-ladyTanah di bawah mereka bergetar seiring kereta-entah untuk keberapa kalinya malam ini – melaju di rel belakang rumah. Getaran yang sama dengan kemarin, dan kemarinnya lagi, dan kemarinnya lagi, dan lagi. Istrinya terlelap di sebelahnya. Seperti orang mati. Mungkin ada baiknya dia begitu.Rasa yang tak lagi sama.

Hanya hening menyapa setelah kereta lewat. Dan juga angin. Dan juga sepi. Bukan, bukan sepi yang itu, karena sayup-sayup ia masih mendengar alunan musik dangdut koplo dari kedai karaoke tak jauh dari rumahnya, terkadang pula tawa orang-orang di kedai itu.

Satu tahun belakangan ini pendengarannya semakin awas, pun begitu dengan indera perabanya. Bukan, bukan karena ia rajin melatih diri dengan tenaga dalam. Tak perlu. Mudi menghela napas. Entah bagaimana warna cahaya malam ini, satu tahun ini ia tak lagi merasakannya. Matanya buta.

Kereta lewat lagi. Istrinya makin pulas dan kali ini Mudi mendengar dengkuran lirih. Sejak itu pula ia semakin mencintai suara istrinya karena ia tak dapat lagi memandang wajahnya. Seingatnya dulu, istrinya memiliki wajah agak persegi dengan tulang pipi agak menonjol, mata yang agak sipit dan tidak lentik, bibir tebal, dan muka pucat. Istrinya bilang, ia ada keturunan Tionghoa. Persetan. Hanya mengingat wajahnya saja tiba-tiba membuat dada Mudi bergemuruh. Ia lantas refleks menggapai-gapai mencari sesuatu. Yap, dapat. Pinggiran lemari kayu yang menjadi penuntun awalnya keluar dari rumah ini.

Akhirnya Mudi bisa menghempaskan pantatnya di bale-bale teras rumahnya. Selain keriut bambu dan suara dangdut koplo yang makin jelas terdengar, Mudi merasakan embusan angin malam menerpa wajahnya. Ia menghirup napas dalam-dalam, seolah-olah cadangan udara di sekelilingnya akan habis.

Ia mengusap dahinya yang terasa basah oleh keringat. Padahal hanya berjalan rembetan dari kamar hingga teras. Telapak tangannya perlahan menelusur turun ke bagian alis dan kemudian mata. Mata itu, yang kini tertutup untuk selama-lamanya. Dahinya berdenyut nyeri teringat kejadian sekitar setahun yang lalu itu. Awalnya, ia rasa jantungnya juga ikut berdebar, namun ia langsung memutuskan cukup dahinya yang berdenyut.

Masalahnya berawal dari mata. Mala memang manis. Kulitnya sawo matang, bersih dengan wajah mungil dan rambut sepanjang tulang ekor. Sayang sekali, kehidupannya tak semanis wajahnya. Permasalahan klasik, sebagai anak dari keluarga pra sejahtera alias miskin, selepas SMA ia memutuskan untuk langsung bekerja. Apalagi ia masih mempunyai dua adik yang masing-masing berusia enam dan sepuluh tahun, sedangkan dua kakak perempuannya sudah menikah dan tinggal di kota seberang. Kakak laki-lakinya merantau di Kalimantan.

Maka tinggallah Mala. Untung saja ia boleh bekerja di ladang tembakau milik salah satu kerabat bapaknya. Lumayanlah untuk meringankan beban orang tua yang hampir berusia separuh abad. Ibunya hanya ibu rumah tangga dan kadang berjualan gorengan keliling kampung. Maklum saja, adik bungsu Mala masih perlu pengawasan orang tua. Selama hampir sepuluh bulan Mala merasa cukup hanya bekerja sebagai buruh tani, hingga ia bertemu dengan salah satu teman sepermainannya dulu, Rini.

Sekarang ia bekerja di kota dengan gaji yang lumayan, katanya. Mala melihat dandanan Rini kini berbeda dengan yang dulu. Rambutnya nampak lebih lurus seperti papan penggilingan dan wajahnya pun sudah terpolesi bedak, lipstik, maskara, dan sejenisnya. Diam-dian Mala iri dengan temannya itu.

Seperti membaca kata hati Mala, Rini pun bersedia memperkenalkan Mala dengan seseorang yang dipanggilnya “Uwak.” Maka mereka janji bertemu di rumah Mala keesokan harinya.

Sang Uwak adalah pria berperawakan seperti pria paruh baya Indonesia, bangsa Melayu pada umumnya, dengan alis berwarna buram dan mata hitam kelam. Rambut berminyaknya disisir ke belakang, nampak kontras dengan pakaiannya yang hanya kemeja kotak berwarna entah karena bahannya sudah terkikis cucian detergen dan air. Ia memakai celana jeans dan bersepatu kets.

Pertemuan itu berlangsung tidak sampai satu jam. Kurang-dari-satu-jam yang cukup membuat Mala pulang dengan beribu pikiran di otaknya. Apa yang ia lihat kini tak sama dengan apa yang ia lihat kurang-dari-satu-jam sebelumnya.

Maka usai makan malam, Mala memberanikan diri berbicara dengan bapak dan ibunya tentang keinginannya merantau. Bapaknya hanya mendengarkan hingga Mala selesai bicara.

“Boleh ya Pak?” rajuk Mala.

“Hhhh.. Bapak sudah menduga kamu pengen ke ibukota.”

“Jadi?”

“Terserah kamu saja.” Kemudian bapak berlalu.

Kali ini pandangan Mala tertuju pada sang ibu. Dilihatnya ibu menggedikkan bahu lantas mengalihkan perhatian pada selembar taplak meja yang akan ia bordir.

Begitulah, Mala akhirnya berangkat ke kota bersama Uwak dan Rini. Untuk sementara, ia menginap di kontrakan Rini. Ruangan itu Terbagi menjadi dua bagian. Bagian depan ada tempat tidur, lemari, meja, dan televisi. Sedangkan ruangan paling belakan adalah kamar mandi dan dapur.

“Tadi kata Uwak, nanti malam kita ketemu di tempat kerjaku. Dandan yang rapi ya,”

“Kok malem-malem?”

“Aku emang kerjanya malem. Kan di bar.” Tak lama setelah mengatakan itu, Rini tertidur pulas. Sementara Mala terbengong di depan televisi yang sedang menayangkan liputan investigasi tentang perdagangan manusia. Hatinya mengatakan ingin kembali ke desa, namun kakinya terasa kaku untuk melangkah. Seharian ia terpekur di depan televisi hingga Rini terbangun dan mengajaknya bersiap.

Kini di depan Mala berdiri deretan bangunan berkelap-kelip dan di kanan kirinya gedung pencakar langit. Rini yang malam itu mengenakan mini dress warna navy dipadu jaket denim biru muda tampak segar dan anggun. Kakinya yang dibalut sepatu marry jane berhak tinggi membuatnya lebih menjulang daripada Mala yang hanya mengenakan sepatu flat yang dulu sering ia pakai ke sekolah. Setelan kemeja krem bergaris vertikal dan celana hitam panjang Mala tak urung membuat Mala merasa salah kostum. Tapi kata Rini, itu tak apa, karena Mala akan ditempatkan di bagian resepsionis.

Mereka berdua lantas memasuki sebuah bangunan bertuliskan “A Cafe La” dengan huruf tegak bersambung berwarna merah. Rini membuka pintu dan nampaklah ruang depan yang hanya berisi kursi sudut warna khaki dan meja serta meja resepsionis. Di situ ada seorang perempuan mungkin seusia Rini dan Mala berambut sanggul dan memakai blazer sedang mengetikkan sesuatu di layar komputer.

“Woi! Sok sibuk banget.” Sapaan Rini yang tiba-tiba itu membuat resepsionis terlonjak dari duduknya.

“Astaga! Lo bikin gue jantungan aja. Masuk sana gih.”

Resepsionis itu melirik sejenak ke arah Mala dan tersenyum. Mala membalasnya.

“Temen lo?”

Rini hanya mengangguk. “Yuk, Mal!”

Mereka beranjak ke ruangan berikutnya. Ruangan yang menmencerminkan suasana kafe pada umumnya. Musisi malam itu mengiringi para pengunjung. Rini melihat sekeliling.

Ia menarik lengan Mala dan membawanya ke salah satu meja di dekat panggung musisi. Rupanya uwak Rini sudah menunggu di sana. Setelah percakapan beberapa saat, Rini berlalu menuju sebuah lorong di dekat bar.

Lorong itu yang hampir setiap malam Mala lewati. Tangga pertama mengingatkannya akan pertemuan dengan Bu Sita. Tangga berikutnya tentang senyum uwak yang kini ia ketahui bernama Mudi. Senyum yang masih tak dapat Mala mengerti apa maksudnya, ketika Bu Sita menyerakhan sebuah amplop cokelat kepada pria itu. Tangga ketiga, hari pertamanya ia masuk kerja. Tangga keempat dan ia membuka pintu yang bertuliskan “Selain Karyawan Dilarang Masuk.”

Mala menantikan Halim, seseorang yang tadi siang mengirimkan pesan ke BBM nya untuk bertemu di kamar 304. Seperti tujuh malam sebelumnya, kali ini pun ia menerka-nerka bagaimana rupa orang yang akan ia temui itu. Apakah akan sekurus orang pertama, ataukah beruban seperti tiga orang berikutnya, atau gempal, atau .. atau.. tak tahu lagi bagaimana Mala menggambarkan orang-orang itu.

Seseorang mengetuk pintu dan Mala segera membukanya. Seorang pria berjas putih. Seseorang yang tak pernah Mala bayangkan. Ia mengira pria itu salah kamar.

“Maaf, anda mencari siapa?” tanya Mala sesopan mungkin.

“Seseorang bernama.. Mala.” Suara pria itu mantap dan menggema di telinga Mala.

Mala menelan ludah. Rambut pria muda itu belah pinggir dan rapi, tatapan matanya teduh di balik kaca mata kecilnya. Bibir tipis dan hidung agak bengkok.

“Ss.. silakan masuk.”

Mala masih merasakan panas tubuh pria yang kini terlelap di sebelahnya. Halim mamang telah mem-booking nya untuk satu malam. Dari mana datangnya pria ini, Mala pun tak tahu. Mereka tak sempat bertanya-tanya atau sekedar basa-basi karena Halim begitu saja menghujani Mala dengan ciuman di bibirnya.

Mala memberanikan diri memandangi Halim dan mata terpejamnya dan Mala tak bisa menahan diri untuk sekali lagi mengecup bibir yang terkatup itu, sebelum ia terbangun, sebelum mereka kembali menjadi orang asing esok hari.

Mudi uring-uringan menerima kabar dari Asep yang mengatakan, ia melihat Mala bersama seorang pria berkacamata di mall. Ia lantas mendatangi kos Mala yang berada tak jauh dari kontrakan Rini. Mala yang sedang tidur terkaget ketika mendengar ketukan keras di pintunya.

“Pak Mudi, ada apa?” tanya Mala ketika mengetahui bahwa tamu itu adalah Mudi.

“Boleh saya masuk?”

Mala pun mempersilakan.

“Denger-denger, kamu udah punya pacar ya?”

“Maaf?”

“Apakah dia salah satu klienmu?”

“Dari mana bapak dapat info itu?”

“Itu nggak penting.” Nada suara Mudi meninggi. Mala melihat kilatan kebencian di mata pria paruh baya itu.

“Saya peringatkan. Jangan sekali-sekali kamu menjalin hubungan dengan klien kamu.”

“Lho, memangnya apa salah saya? Toh Bu Sita juga nggak melarang.”

Mudi semakin mendekat ke arah Mala hingga gadis itu bisa mencium aroma rokok dari mulutnya. Namun begitu, Mala tak berani menatap Mudi.

“Siapa dia?” Mudi bertanya sembari mengguncang bahu Mala. Mala menepis tangan Mudi dan mundur satu langkah.

“Itu bukan urusan anda. Kalau anda ingin uang tips, oke, saya kasih. Berapa yang anda minta?” Mala sudah berani menatap pria di hadapannya.

“Kurang ajar kamu. Kali ini saya biarkan kamu. Awas kalau suatu saat saya dapati kamu berpacaran dengan orang lain.”

“Apa maksud anda dengan orang lain?”

“Saya tidak suka kamu main mata dengan pria-pria itu.”

Mudi pun meninggalkan Mala yang kemudian baru tersadar akan maksud dari perkataan Mudi. Jantungnya berdegup semakin kencang ketika mengetahui bahwa Mudi sudah beristri. Cepat-cepat ia mandi dan menghubungi Halim. Di pikirannya, hanya dia seoranglah yang dapat membantunya.

“Please tolongin gue, Lim.” Kata-kata itulah yang meluncur dari bibir Mala ketika memasuki apartemen Halim.

“Tenang dulu.. ada apa ini?”

Mala pun menceritakan kejadian tadi kepada Halim. Halim menghembuskan napas.

“Oke.. Lo boleh nginep di sini sehari atau dua hari.”

“Makasih..”

Tantri menghadang Mudi di pintu depan rumah mereka.

“Dari mana saja bang?” tanya Tantri ketika Mudi hendak memasuki rumah.

Mudi tak menjawab. Tantri memblokir pintu masuk dengan lengan kiri.

“Aku mau masuk.”

“Makanya kalo ada orang nanya dijawab dong!”

“Kok malah nyolot sih?!” Mudi menepis lengan Tantri dengan kasar. Perempuan sipit itu nyaris terjerambab. Tantri mengikuti suaminya setelah ia menutup pintu.

“Abang dari mana sih? Tumben tadi aku telepon nggak dijawab?”

“Tadi ada sedikit keributan di kafe.”

“Keributan apa? ”

“Bukan urusan kamu.”

“Keributan? Jangan dikira aku nggak tahu ya, kamu ada main sama salah satu anak buah Bu Sita.”

Mudi yang sedang menuang air putih ke dalam gelas, membanting botol air di atas meja. Ia menatap Tantri tajam. Sang istri taks erta merta mundur dan juga membalas tatapan suaminya.

“Apa kamu bilang?” kata Mudi.

“Alaah.. Nggak usah pura-pura pilon deh. Ngaku aja!”

“Heh. Aku tuh baru pulang kerja. Capek. Bisa nggak sih kamu nggak berisik?”

Tantri akan menjawab namun terdengar tangisan anak pertama mereka dari kamar. Ia pun segera menyongsong anak itu dan menenangkannya.

Keesokan harinya, Tantri membuntuti Mudi. Tantri meyuruh angkot berhenti ketika ia merasa jaraknya dengan sang suami sudah cukup dekat. Mudi tak menyadari keberadaan Tantri di belakangnya karena ia tengah sibuk mencari alamat apartemen yang belakangan ia ketahui menjadi tempat persembunyian Mala.

Tantri mempercepat langkahnya. Semakin mendekat, semakin dekat.. Ia pun menepuk pundak Mudi. Mudi menoleh.

“Ngapain kamu di sini?”

“Aku yang harusnya nanya, ngapain Bang Mudi di sini? Bukannya tadi katanya nganterin anak Bu Sita ke sekolah?”

“Kamu ngebuntutin aku ya?”

“Ya terus aku keliatannya lagi apa? Nyari siapa kamu Bang?”

“Pulang sana.”

“Kamu ngejar-ngejar lonte itu lagi?”

“Apa maksudmu?”

“Lisa.”

Mudi terdiam. “Bisa-bisanya kamu nuduh aku ada main sama dia?”

“Pasti orang lain lagi kan? Iya kan?” Tantri segera tanggap.

“Apaan sih?”

“Siapa? Siapa lagi?!!” kali ini Tantri lebih histeris. Orang-orang yang berada di sekitar trotoar itu menoleh ke arah mereka. Ada yang langsung membuang muka lalu pergi, namun tak sedikit pula yang memperhatikan mereka.

“Apa? Apa kalian lihat-lihat?!” Tantri berteriak ke arah orang-orang itu. Mereka pun segera mengalihkan perhatian masing-masing.

Kini Tantri kembali beralih pada suaminya. “Siapa lagi?” air mata Tantri tak terbendung.

Mudi terdiam. Amarah Tantri semakin menjadi. Tiba-tiba ia mendorong tubuh Mudi, menyebabkan pria itu tersungkur, Tantri mengeluarkan pisau lipat dari sakunya. Jangan! Tolong! Terlambat. Gerakan orang-orang itu tak bisa menjangkau Tantri yang segera menikamkan pisau ke kedua mata Mudi. Sang suami mengerang. Tantri menjerit lalu tertawa terbahak.

“Sekarang kamu nggak bisa lagi main mata sama perempuan-perempuan jalang itu! Hahaha!!”

Orang-orang bergidik ngeri, sementara Mudi pingsan dengan darah mengalir di sekitar kepalanya, mengaliri batako trotoar.

Mudi terkesiap ketika terdengar laju kereta api untuk kesekian kalinya. Tiba-tiba ia merindukan anaknya, yang entah bernama siapa, dan entah ke mana Tantri membawanya. Tantri berdiri di ambang pintu mengamati Mudi yang menghadap lurus ke depan. Tantri memandang suaminya itu, dari ujung kaki hingga kepala, dan berhenti di kedua mata itu. Mata yang pernah berbinar dan membuatnya memilih pria itu, meninggalkan keluarganya di pulau seberang sana. Meninggalkan seorang pria yang telah orang tuanya pilihkan untuknya. Mata itu kini tertutup.

Tapi Tantri masih menyimpan kenangan binar itu di sebuah toples kaca di dalam lemari. Jika ia merindukannya, ia cukup mengeluarkan toples itu.

“Bang, ayo bersiap. Sebentar lagi jalanan rame.”

Mudi menurut saja. Maka beberapa menit kemudian nampaklah dua pasangan suami-istri itu menyusuri jalanan subuh yang masih terbalut embun. Sebentar lagi jalanan tempat mereka biasa mangkal akan bertambah padat.

Mala memandang jalanan pukul lima pagi dari balik kaca bus. Ia merasa perjalanan pulang kali ini terasa lama. Padahal tadi terengah-engah ia berlari setelah melompati pagar di bagian belakang apartemen. Untung saja tempat tinggal Halim hanya berada di lantai dua. Ia menyandarkan diri di kursi, namun segera ia tarik kembali tubuhnya. Luka itu belum kering. Tapi ia pernah menikmati luka itu bersama Halim. Mala tak tahu bagaimana ia bisa bertahan bersamanya setahun ini. Ia pikir ia bisa mengubah pria itu. Ia pikir dengan menerima semua lukanya, akan ada pandangan teduh dari dua mata itu, lelaki yang di mata Mala selamanya berjas putih. Namun tak ada. Tidak ada.

Keteduhan hanya ada di antara angin pegunungan yang menyusup di sela-sela daun-daun tembakau, pada sinar mata hari yang menyusup di rimbunnya daun cengkih. Keteduhan hanya ada di jalan-jalan kecil yang hanya dilalui sepeda motor dan traktor. Dan mungkin, keteduhan itu ada dengan melihat dua pengemis, sang lelaki buta dan istrinya, menunggui kaleng berkarat di depan mereka, di bawah lampu lalu-lintas.

Bus kembali melaju, semakin jauh meninggalkan embun yang lambat laun terkalahkan oleh asap knalpot dan industri. Mala pun terlelap tak menghiraukan luka yang tersisa.***

Aku pun Bisa Menuliskanmu

romantik_1280Menuliskan tentang dia tak semudah yang aku pikirkan sebelumya. Dia memang bukan sesuatu yang pantas untuk dituliskan. Aku mungkin terlalu takut, atau dia sudah meracuni ide ini sehingga aku tak tahu apa lagi yang aku akan tulis tentang dia.

Jam sepuluh pagi aku menjemputnya di stasiun kereta. Bahkan dari jauh aku sudah mengenalinya. Hoodie khaki, celana belel, sandal gunung, tas ransel yang ia sampirkan di pundak kiri. Aku tak perlu susah-susah mendekatinya, cukup dengan menelepon, maka ia pun akan segera mengetahui di mana aku berdiri.

“Lama?” selalu itu yang ia tanyakan jika aku menjemputnya.

Aku hanya tersenyum. “Basi.” Lalu aku berbalik dan ia mengikutiku hingga ke tempat parkir. Hari ini aku lupa bahwa aku tidak membawa sepeda motor.

“Err.. Sorry ya, aku lupa kalo aku nggak bawa motor,” kataku sambil nyengir.

Ia tertawa. “Motorku kan ada di tempat penitipan. Ke sana yuk!”

“Kenapa kamu nggak bilang dari tadi?” aku merengut.

“Ye.. orang kamunya ngeloyor aja.”

Maka begitulah, tak lama kemudian aku telah berada di jok belakang sepeda motor bebeknya. Aku sangat suka berada di belakangnya, memperhatikannya sepuasnya. Tahi lalat di tengkuknya, bulu romanya, dan juga mencium aroma parfumnya.

Rendra. Ya, itulah namanya. Seperti seorang penyair. Namun ia sama sekali bukan tipe penyair. Ia lebih tertarik dengan angka-angka dan kode-kode enkripsi di layar komputer dan gambar-gambar dari lensa, makanya ia sering bepergian demi pekerjaannya itu.

Pertama-tama ia mengantarku ke tempat kerja. Ia tahu, bahwa aku selalu mencuri-curi kesempatan di sela jam kerja jika ia memintaku menjemputnya pada weekdays. Aku selalu bisa lolos dengan berbagai macam alasan. Selama kinerjaku bagus, bosku tidak pernah mempermasalahkan apakah aku sering bolos atau tidak.

Setelah itu, hari terindah pun dimulai. Entah kenapa, aku selalu merasa lebih bersemangat kerja setelah bertemu dia. Apakah aku mulai jatuh cinta dengannya? Apakah ia juga punya perasaan yang sama?

Dulu kami memang rekan satu perusahaan. Namun sekitar lima bulan yang lalu ia memutuskan resign dan menekuni usaha barunya kini. Ia berkata padaku, gajinya yang sekarang jauh lebih besar daripada yang ia terima ketika ia bekerja di perusahaan.

Tiba-tiba ponselku bergetar tanda ada pesan masuk. Tepat seperti yang kuharapkan, dari Rendra. Ia hanya memberitahuku, ia sudah sampai di apartemennya dan bersiap tidur. Aku hanya tersenyum lalu membalas dengan ucapan selamat tidur.**

Sudah tiga hari tidak ada kabar dari Rendra. Aku mencoba mengirim pesan singkat, namun tak kunjung ia balas. Aku telepon, tak juga diangkatnya, mailbox pun tidak. Biasanya kami akan menghabiskan Jumat sore di salah satu kedai kopi favorit kami. Dia sangat menyukai espresso, sedangkan aku es cappuccino, terkadang juga coffee latte. Karena tak ada respon darinya, terpaksa sore ini aku ke kedai kopi seorang diri.

Lalu aku melihatnya. Dia bersama seorang gadis berambut lurus sebahu dan berwajah oriental. Ia nampak cantik memakai setelan dress floral warna fuschia dipadu loose cardigan berwarna krem.

Beberapa kali aku mencoba memastikan bahwa pria yang bersama gadis itu adalah Rendra. Aku pun menarik napas panjang, bersiap menyapanya dan gadis itu. Baru beberapa langkah, pandangan Rendra sudah menangkap kedatanganku. Tak ada ekspresi apapun darinya kecuali senyuman lebar. Mau tak mau, aku pun membalasnya. Gadis berwajah oriental menoleh. Ia ikutan tersenyum.

“Hai, aku Kayla,” kataku spontan ketika tiba di hadapan gadis itu.

“Lenny,” katanya seraya menjabat tanganku. Aku buru-buru melepaskan jabatan tangan kami. Lalu, hening sejenak.

Sorry ya, aku nggak bales SMSmu. Sibuk banget,” kata Rendra mencairkan suasana.

“Ah, biasa aja. Kirain kamu kenapa-kenapa.”

“Mau gabung?” tanya Lenny.

“Ah, eng.. enggak. Aku duduk di sana aja. Kebetulan ada beberapa email yang harus aku balas.”

Rendra tampak ingin mencegahku, namun aku buru-buru berlalu dari hadapan mereka dan menuju ke salah satu meja yang jauh dari meja mereka. Sengaja aku memilih tempat duduk yang berlawanan arah dengan meja Rendra dan Lenny. Kau tentu tahu kenapa.

Selanjutnya, aku pura-pura membuka laptop dan menekuri email. Tentu saja tidak ada email yang harus akau balas. Alih-alih, aku melipir ke blog pribadiku dan meluahkan semua perasaanku sore ini.

Keesokan harinya, aku kembali bertemu Rendra di taman kota. Tak ada Lenny atau siapapun di sampingnya. Aku menyapanya yang sedang duduk di bangku dekat pohon akasia. Ia memakai celana pendek dan kaus oblong dan nampak bagian lehernya basah oleh keringat. Sambil berjalan, aku memperhatikannya meneguk air mineral dalam botol.

“Hai, sendirian?” tanyaku tiba-tiba.

Rendra menoleh. “Eh, iya. Hari ini Lenny kerja. Maklum..” Rendra menghentikan perkataannya.

“Maklum kenapa?” aku penasaran, sembari duduk di sampingnya.

“Oh, aku belum ngasih tahu kamu ya. September nanti kami akan menikah..”

Pandanganku kabur tak tentu arah demi mendengar kabar darinya. Telingaku seperti hanya mendengar suara samar ketika Rendra mengatakan sesuatu tentang biaya pernikahan. Tenggorokanku tercekat. Untuk menutupi kekagetanku, aku berdehem.

“Wah.. selamat ya!” hanya itu kalimat yang akhirnya keluar dari mulutku.

Thanks.”

Aku pura-pura melihat jam tangan.

“Duh, udah jam delapan aja. Aku cabut dulu ya, ada janji sama Intan.”

“Oke. Ntar aku anter sendiri undangannya ke rumahmu.”**

Mumpung bosku absen, aku manfaatkan waktu luangku di kantor dengan menulis di buku agenda pribadi. Sengaja aku menyimpan satu buku agenda untuk sekedar corat-coret di waktu senggang. Aku tentu saja terkejut ketika seseorang menghampiri kubikelku.

“Lagi sibuk?” tanya orang itu.

Aku menoleh. “Arman! Aku kaget tahu.” Cepat-cepat aku menutup buku agenda.

“Kayanya seminggu yang lalu aku lihat kamu di stasiun, terus pergi gitu aja. Ada apa sih?”

“Stasiun?” Kau mencoba mengaduk-aduk memori otak.

“Oh.. itu. Ga apa-apa. Cuman iseng.” Kataku tak lama kemudian.

“Kayanya kamu nyari seseorang deh. Tapi pas aku mau samperin, kamu udah keburu pergi.”

“Kamu sendiri ngapain di stasiun?” aku balik bertanya.

“Jemput si Rendra. Kamu inget kan?”

“Oh.. Rendra yang itu? Gimana kabarnya sekarang?”

“Dia sekarang juga jadi fotografer. Sekarang kan lagi musim pre-wed. Nah, kemaren tuh dia baru pulang dari Sukabumi. Ada proyek foto pre-wed di sana.”

“Baguslah,” kataku.

“Oh ya, kenapa kamu jadi sering ke The Stillos sendirian? Jumat kemaren aku ke sana bareng Rendra lho.”

“Aku pengen ngopi sendirian aja,” jawabku singkat.

Dulu sewaktu Rendra kerja di kantor, kami bertiga memang mengagendakan ngopi bareng Jumat sore. Karena itu, aku tak kaget ketika Arman menanyakan tentang itu.

“Yah, padahal kita pengen kenalin kamu ke tunangannya Rendra. Tapi kamu keliatan sibuk gitu. Abis dimarahin Pak Wirya ya?”

“Tu..nangan?”

“Iya. September nanti katanya mereka nikah.”

“Oh.. Cewek.. maksud aku, calon istrinya orang mana?”

“Dia temen kuliah Rendra.” Arman menoleh ke arah jam dinding.

“Udah jam lima tuh. Cabut yuk!” Lalu tanpa menunggu jawaban dariku, Arman sudah berlalu ke kubikelnya yang hanya terpaut tiga kubikel dariku.

Sementara yang lain sibuk berkemas, aku masih terpekur menatap buku agenda di tanganku. Penasaran, aku pun mencoba membaca ulang apa yang telah aku tulis di sana.

Jam sepuluh pagi aku melihatnya turun dari kereta. Aku menyukai rambut tipisnya yang dibiarkan acak-acakan. Dan ia tersenyum ke arah.. Arman. Ya, belakangan ini aku mengikuti Arman ketika menjemput Rendra di stasiun. Aku tahu dari akun Facebooknya, sekarang ia menjadi fotografer disamping tetap bekerja sebagai programmer. Seandainya aku dapat kesempatan mengenalnya lebih jauh..

Lalu di bawahnya ada tulisan lagi:

Jam sepuluh pagi aku menjemputnya di stasiun kereta. Bahkan dari jauh aku sudah mengenalinya. Hoodie khaki, celana belel, sandal gunung, tas ransel yang ia sampirkan di pundak kiri. Aku tak perlu susah-susah mendekatinya, cukup dengan menelepon, maka ia pun akan segera mengetahui di mana aku berdiri.

Tiba-tiba jantungku berdegup lebih cepat. Aku membalikkan halaman demi halaman dengan tergesa. Hingga sampai pada tulisan yang kubuat sekitar hari Sabtu lalu.

Sabtu pagi yang sepi, jogging yang sepi. Bahkan penjual nasi opor pun terlihat sepi. Seandainya ia di sini. Aku ingin sekali melihat Rendra versi sehabis jogging. Hhh. Boro-boro jogging. Dulu aja sering telat janjian jalan santai bareng.

Sama seperti tulisan sebelumnya, setelah aku coret tulisan pertama, aku menulis versi lain dari cerita itu di beberapa baris setelahnya.

Akhirnya kulihat Rendra versi sehabis jogging tadi pagi. Ia terlihat segar. Mungkin itu karena September nanti ia dan someone-you-can-call-as Lenny akan menikah. Aku sangat ingin berbincang dengannya, untuk yang terakhir kali, dan mengucapkan selamat.

Ah, ternyata sesederhana itu menulis tentang dirinya. Setidaknya, aku akan tetap bersamanya di dalam halaman-halaman buku agenda ini.

Aku pun tersenyum sambil menutup buku agenda. Ruang kantor telah sepi. Hanya ada seorang office boy yang baru saja masuk untuk bersih-bersih. Tak lupa aku memasukkan buku agendaku ke dalam tas sebelum bangkit keluar ruangan. Dua bulan tersisa agar aku bisa tetap bersamanya di dalam baris-baris kalimat tulisan tanganku.*****

Note: I sent this very short story to a competition and I didn’t make it- you know. I didn’t win. But I don’t feel like going to stop… writing and participating when there is any competition. You may find it in a book by Nulis Buku – Book 10, where the ultimate participants’ writings listed. And it made me realized that I didn’t write it well enough. That’s it. Let’s toast for this successful failure!

Aku pun tersenyum sambil menutup buku agenda. Ruang kantor telah sepi. Hanya ada seorang office boy yang baru saja masuk untuk bersih-bersih. Tak lupa aku memasukkan buku agendaku ke dalam tas sebelum bangkit keluar ruangan. Dua bulan tersisa agar aku bisa tetap bersamanya di dalam baris-baris kalimat tulisan tanganku.*****

Note:

I sent this very short story to a competition and I didn’t make it- you know. I didn’t win. But I’m glad that I’ve got one more chance participate and I won’t give up. Let’s toast for another successful failure!

Berdamai Dengan Tokoh

07pOkay, karena belakangan aku cukup sering membaca chicklit dan metropop, aku jadi terbawa suasana dan ingin mencoba menulis cerita panjang yang ceritanya juga terbilang biasa saja.
Ide dasar cerita yang sedang aku garap ini sebenarnya dari temanku. Waktu itu aku lagi stuck banget lama tidak menulis dan aku pikir aku harus mulai dari awal dan menuliskan apa yang aku pikir cerita mainstream. Bukan bermaksud memandang remeh cerita-cerita itu, namun isinya memang yah-begitulah-adanya.
Ide temanku itu awalnya cerita rumah tangga pasangan muda dan triangle love. Lalu aku modif aja deh, jadi hubungan pacaran. Itu saja. Lalu apa masalahnya?
Masalahnya – atau hanya aku yang menganggapnya demikian – karena kehidupan tokoh-tokoh di cerita itu terlampau normal untukku. Yah, apalagi jika bukan kehidupan orang-orang kalangan menengah ke atas. Begitulah, cerita tentang mereka yang sudah tak punya hal penting lain yang harus dipikirkan selain kehidupan percintaan.
Di sini aku mencoba berdamai dengan tokoh-tokohku. Aku mencoba menggambarkan mereka dari sudut pandang utopisku, mencoba menekan perasaan iri yang diam-diam menyelinap. Kadang aku merasa aneh, mengapa aku merasa iri terhadap para makhluk fiktif ini? Aku merasa, masih ada gap antara tokoh-tokohku dengan aku, dan dengan kata-kata yang melayang-layang di benak. Kami terpisah, melayang di ruang hampa udara. Hiyah, aku terlalu mendramatisir. Atau, mungkin karena aku lebih sering menulis cerpen?
Dulu, dulu sekali, aku pernah menulis teenlit di buku bekas, dari awal hingga akhir. Aku merasa sangat mudah menyelinap di kehidupan mereka, menyaksikan mereka, dan bermain kata dengan apapun yang mereka lakukan. Mereka – tokoh, tempat, situasi, suasana, begitu mudah aku bayangkan dan aku tulis. Mungkin karena waktu itu aku masih belasan tahun, belum begitu mengerti tentang kehidupan nyata di luar sana.
Aku pun berusaha membebaskan pikiran ini. Aku mencoba menemukan kembali cara menyelinap di dunia yang sebenarnya mustahil aku gapai.
Walaupun aku sudah punya gambaran alur ceritanya, tapi aku belum bisa memutuskan bagaimana cerita ini akan berakhir. Terus terang saja, aku sangat menyukai jika sebuah cerita berakhir absurd, berantakan, atau bahkan tragis. Bagiku, itu lebih baik daripada cerita yang isinya panjang lebar gaya hidup kaum borjuis atau orang-orang mapan dan berakhir dengan sesuatu yang sudah dapat kita tebak sehingga sering kita terbengong dan berkomentar “Cuma gini??”
Tak ada salahnya memang menuliskan cerita dengan the-cuma-gini-ending. Ada juga beberapa the-cuma-gini-ending yang bermutu. Namun itu pastilah bukan cerita yang isinya melulu kehidupan orang menengah ke atas.
Ah, sudahlah. Aku hanya ingin terus menulis karena, jika kata-kata saja sudah enggan menyapaku, maka itulah sesepi-sepinya sepi. Tak menakutkan, hanya meninggalkan kekosongan.

Sekedar Intermezo

Ya, sekedar intermezo. Aku tak akan membahas hal-hal yang biasanya aku tulis.
Kali ini cuma catatan harian biasa dan mungkin akan membuat pembaca bosan. Itupun jika ada yang membaca. Ouw yeah. Aku akhirnya mendapat pekerjaan “normal” seperti yang aku harapkan. Tapi aku jujur saja, masih belum puas karena truth be told, itu tidak sesuai dengan apa yang aku cita-citakan selama ini. Tapi berhubung aku Liverpudlian, jadi aku coba dengung-dengungkan slogan “walk on through the wind, walk on through the rain tho’ your dreams be tossed and blown.” Sekedar untuk pelipur lara walaupun itu saja tidaklah cukup. 

Well, pekerjaanku sebagai corporate slave. Tapi ada beberapa hal yang sering aku pikirkan jika melihat mereka yang bekerja di such company di usia yang sudah tak muda. Perusahaan tempatku bekerja sebenarnya sudah bangkrut, namun masih saja bertahan. Jika melihat para bapak yang bekerja di sana dengan giatnya, aku jadi terharu. Bukan urusanku memang. Bukan karena aku merasa aku kurang beruntung atau apa, tapi ada alasan lain. Apakah orang-orang seperti mereka benar-benar tak punya pilihan?
Pernah aku bercakap dengan salah satu buruh, katanya dia sudah merasa nyaman bekerja di sana. Dia memang pegawai kontrak. Tapi dia senang karena tak pernah ada pemutusan kontrak secara sepihak. Yah, memang ada yang menganggap pekerjaan itu sesuatu yang patut dipertahankan.  Tapi menurutku, mereka terjebak antara kekhawatiran dan sebuah tawaran untuk kehidupan yang lebih baik. Uh. Tiba-tiba aku merasa sangat mengantuk. Ya sudah, aku lanjukan kapan-kapan……………

 

 

 

Frekuensi Astral

“Iya, iya. Ini baru nyampe venue..” seorang gadis berkaus oblong marun dan bercelana cargo memasuki sebuah tenda di lapangan Simpang Lima Semarang. Sementara tangan kirinya memegang handphone yang didekatkan ke telinga, tangan kanannya meletakkan kardus air mineral bekas di sebuah meja. Tampak dari kardus terbuka itu huruf-huruf balok dari gabus berwarna-warni. Di pundaknya menggantung santai sebuah ransel dengan tempelan bet beraneka rupa – mulai dari bendera merah-putih, si kuning Smile, Spongebob, hingga lambang swastika. Tas berbahan jeans itu sudah tak kentara lagi warna aslinya: sebentar-sebentar terlihat biru muda, sebentar-sebentar terlihat abu-abu, kadang campuran dari dua warna itu.

Di tenda itu sudah ada sekitar lima orang lain dengan kaus merah marun. Ada yang sedang menekuri laptop, dua orang lagi sedang memilih bunga-bunga kertas, satu orang sedang membaca sesuatu, dan satu orang lagi tidur nyenyak di gelaran tikar di pojok tenda.

“Nah ini dia nih! Bu Dekor, dicariin Mas Bagas tuh!” kata gadis berkacamata yang sedang memegang beberapa carik kertas. Dia lantas mendekat ke arah si pixie kemudian mengamati rambutnya.

“Kamu ganti warna rambut lagi?”

Yeah,” sahut si pixie sembari mengantongi handphone. Dia menoleh ke arah gadis kacamata. “Kenapa?”

Burgundy. Bagus juga. Kira-kira tahan berapa hari tuh?”

Sementara itu, yang lain hanya menoleh sekilas lalu kembali sibuk dengan tugas masing-masing.

“Peduli apa? Oh ya, aku mau nemuin Mas Bagas dulu. Noh, huruf-hurufnya!”

Si pixie keluar dari tenda. Gerimis tipis menyambutnya. Orang-orang yang sebagian besar berkaus merah marun berlalu-lalang sambil membawa beban masing-masing. Di panggung utama, nampak seorang pria sedang mengatur tata letak alat-alat musik. Dialah orang yang dicari si pixie. Gadis itu pun segera menghampirinya.

“Woi!”

Pria yang dipanggil dengan sebutan Mas Bagas menoleh.

“Akhirnya kamu nyampe juga Han,” Bagas kemudian melanjutkan berbicara dengan beberapa orang yang menggeser-geser alat-alat musik, “Organnya kurang ke kiri dikit lagi…. Yak, sip. Alfon, tolong lanjutin nata panggungnya!”

Lalu seseorang menggantikan Bagas mengatur tata panggung. Bagas menggiring si pixie yang bernama Hana itu duduk di bangku tak jauh dari panggung.

“Kenapa kemarin kamu nggak dateng rapat? Sibuk nyemir rambut?” Bagas langsung bertanya.

Hana diam saja, kakinya yang dibalut sepatu sandal hitam mempermainkan batu kecil. Matanya tertuju pada lantai merah bata.

“Aku kan udah bilang, jangan undang band Galia. Mereka bakal….”

“Minta bayaran lebih? Bikin ribut?”

“Nah itu udah tahu.”

“setuju atau enggak, kita tetap ngundang Galia. Mereka bintang tamu spesial.”

“Tapi kan ada Diana Tino sama Arwi Rangga? Kenapa nggak mereka aja yang jadi bintang utamanya?”

“Mereka udah pengen buru-buru liburan.”

“Terserah deh. Oh ya, aku kan cuma sie dekorasi. Lagian acaranya kan besok malem. Mending aku balik ke tenda ngrampungin spanduk depan.”

Hana langsung beranjak dengan muka ditekuk. Dia merutuk dalam hati, tentang ini, itu, hampir semuanya. Galia. Biarin aja mereka yang naggung akibatnya.

**

Seminggu sebelumnya..

Hana membaringkan badan di ranjang kamar kosnya. Kejadian hari ini sukses membuat kepalanya berdenyut hebat dan hampir seluruh badannya pegal. Gini nih, kalau punya anak buah yang kebanyakan acara dan ngakunya sibuk ini itu. Belum lagi keadaan jalanan Semarang yang diperparah dengan hujan yang nyaris tanpa henti. Poster belum diambil, kamera rusak, motor mogok, dan ketemu teller bank yang wajahnya dimurem-muremin.

Hana nyaris terlelap ketika pikirannya teringat sesuatu: sepatu ketsnya yang mungkin masih nagkring di teritisan balkon. Tadi kan hujan deras. Hana meloncat dari tempat tidur lalu menuju balkon. Benar dugaannya, sepatunya basah kuyup. Anak-anak kos yang lain rata-rata pulang kampung, liburan natal dan tahun baru dan sebelum ujian semester. Hanya ada satu temannya, Tania. Tapi dia juga jarang pulang karena ada fashion show.

Pandangan Hana tertuju pada setumpuk berkas di meja, dan juga buku-buku yang berserakan, bahkan masih ada satu yang masih terbuka. Oh skripsweet. So sweet banget sih, sampe rela nungguin aku yang nggak jelas menggelandang ke mana? Tapi godaan kasur berseprei pink polkadot, bantal beserta guling, ditambah selimut bergaris sungguh begitu nyata. Sayup-sayup terdengar gemericik hujan ringan, angin yang berembus lembut. Tak berapa lama, Hana telah bergelung di dalam selimut.

Hana merasakan tubuhnya begitu ringan, seringan angin yang selalu menyusup melalui celah-celah jendela. Ia pun membuka mata, memandang sekeliling. Keadaan masih sama. Hana tersenyum. Kesibukan skripsi membuatnya melupakan kesenangan malamnya ini, berkeliling menikmati kabut dan luasnya langit hitam.

Hana teringat dosbing pertamanya yang selalu lupa namanya ketika bimbingan. Sampai-sampai Hana dijuluki si siluman. Ia pun memutuskan menemui sang dosen. Siapa tahu dapat ilham mengembangkan ide yang lama buntu. Hana tak memedulikan rintik hujan yang tercurah. Hujan di malam hari malah menjadi favoritnya, ia tak perlu memakai jas maupun payung. Ia bisa bebas.

Jalanan di depan gang kosnya masih menampakkan tanda-tanda kehidupan, terutama di warung-warung nasi kucing dan kedai wedang ronde. Notabene mereka adalah laki-laki. Ketika Hana melewati sebuah kafe, barulah ia tahu, malam ini ada pertandingan yang mereka sebut Big Match. Terlihat beberapa tifosi dua kesebelasan Eropa memakai jersey dan aksesoris klub kesayangan mereka. Hana dulu juga salah satu dari mereka, sebelum ia menjadi seorang yang nyaris nomaden seperti sekarang.

Sampai di persimpangan jalan dekat gapura kampus, Hana celingukan. Ia lupa alamat pasti Bu Erna, dosen pembimbingnya. Ia pernah satu kali bimbingan di rumah Bu Erna. Rumahnya lumayan jauh dari kampus. Mungkin karena letaknya yang nyaris di puncak bukit. Bu Erna nyaris tidak punya tetangga. Satu-satunya rumah di dekat kediaman beliau adalah rumah pembantu.

Biasanya, Hana akan bertanya kepada orang-orang. Namun dengan keadaannya yang seperti ini rasanya mustahil. Kecuali kalau orang-orang itu juga melakukan hal seperti yang Hana lakukan. Sudahlah, lupakan saja. Lagi pula, Hana benar-benar ingin berjalan-jalan sendirian, seperti melayang, bebas, lepas.

Dalam kabut yang menggulung seiring malam yang kian larut, Hana menyusuri jalanan lembab seraya mencoba mengingat arah mana yang pernah ia tempuh. Satu-satunya petunjuk yang nyantol dalam ingatannya adalah sebuah tugu mini berbentuk seperti piramida. Dari situ ada satu-satunya jalan menuju perkampungan dan puncak bukit.

Hana melanjutkan jalan-jalan malamnya. Hujan sudah reda, suaranya digantikan nyanyian serangga pohon seperti tonggeret, belalang kecek, dan jangkrik. Kadang-kadang Hana melihat beberapa orang berkerumun di bawah pohon. Mereka seperti sedang mengadakan perundingan entah. Ada juga keramaian serupa pasar di dekat tugu piramida. Sayang sekali, Hana tak membawa uang sepeser pun. Ditambah lagi, tak satupun barang dagangan mereka menarik minat Hana dan orang-orang di sana memakai pakaian tradisional. Tentu Hana akan merasa salah kostum. Biasanya, pedagang-pedagang itu menaikan harga barang jika mereka tahu kalau pembelinya adalah orang asing. Hana tahu mereka. Cukup tahu saja. Hana tak akan mengganggu mereka.

Hana mempercepat langkanya. Semakin cepat semakin ringan. Rimbun pohon yang tertiup angin bergemerisik. Daun-daun bertangkai rapuh berguguran. Perkampungan yang Hana lewati bukan perkampungan biasa. Rata-rata rumah mereka berlantai dua dan berpagar tinggi, ada pula yang memiliki Dwarapala sebagai penjaga gerbang. Hana mengagumi rumah-rumah yang berderet tinggi rendah itu, bercahaya redup, putih, dan berwarna-warni. Hana mengagumi sebuah rumah tanpa pagar dengan halaman depan yang cukup luas. Di tengahnya ada gazebo dengan tempat obor di keempat tiangnya. Sayang sekali, obornya tidak menyala. Mungkin karena hujan. Rumah itu berdinding motif batu alam berukuran cukup untuk menampun sebuah keluarga kecil yang bahagia. Entah seperti apa rupa keluarga yang seperti itu.

Lamat-lamat Hana mendengar alunan biola dan dentingan piano. Semakin Hana melangkah naik, suara itu semakin jelas terdengar. Rupanya dari sebuah rumah bergaya minimalis. Dari siluet di salah satu jendela lantai satu tampak gambaran seorang pria berambut mohawk sedang menggesek biola. Di sebelahnya ada siluet berambut cepol dengan lengan baju pendek dan rok panjang yang menjuntai, sedang memainkan piano. Hana berhenti sejenak untuk menikmati melodi itu. Sehari-hari ia terbiasa mendengarkan alunan musik metal. Irama biola dan piano itu memberi kedamaian tersendiri di kepalanya. Tiba-tiba kepalanya tertimpuk sebuah biji melinjo. Rupanya ada anak lelaki kecil di dekat rumah minimalis yang sedari tadi memperhatikannya. Seelah menjulurkan lidah, anak itu berlari memasuki rumah minimalis. Hana terbelalak, antara kesal dan.. khawatir.

Ia terus menyusuri jalan beraspal yang menanjak. Makin ke atas ia makin jarang menemui rumah-rumah. Paling hanya satu dua rumah warung yang semuanya tertutup.

Hana sudah lupa akan rasa jantuknya yang beberapa saat yang lalu ia rasakan. Sekarang ini matanya tidak mau lagi terpejam dan ia malah lebih menikmati selimut kabut daripada selimut bergaris di kasur.

Senyum Hana terkembang ketika ia melihat sebuah bangunan yang ia tuju. Rumah model jengki klasik dengan lampu lolipop dan pagar rendah yang selalu terbuka. Pohon mangga itu masih ada, begitu pula dengan deretan pot tanaman hias yang tertata apik. Penghuni rumah itu sepertinya telah beristirahat. Hana tak peduli. Ia terus mendekati rumah jengki, rumah Bu Erna.

Tiba-tiba saja dari putu depan muncul seorang laki-laki memakai Polo Shirt biru dan celana pendek. Orang itu melihat Hana.

“Siapa kamu?!” laki-laki itu setengah membentak.

Hana terkejut. Ia tak menyangka ada yang melihatnya. Padahal Hana sudah melangkah sepelan mungkin. Walaupun teras itu hanya diterangi lapu neon, namun Hana dapat menangkap sosok pria itu. Usianya mungkin tidak jauh berbeda dengan Hana. Karena sudah terlambat baginya untuk kabur, Hana hampiri saja orang itu.

Semakin mendekat, terlihat jelaslah wajahnya. Ia hampir mirip Bu Erna, berhidung mancung dan memiliki tahi lalat di rahang dekat telinga kanan. Hanya saja, rambut lelaki ini hitam legam dan lurus, sedangkan rambut Bu Erna berwarna kemerahan  serta bergelombang.

“S.. saya.. Ehm. Saya Hana, salah satu mahasiswi Bu Erna.”

“Ngapain kamu malem-malem ke sini? Sendirian?”

Hana terdiam, masih mengamati sosok lelaki di hadapannya itu.

“Kok diem aja? Ngapain kamu kesini malem-malem?” lelaki itu mulai tak sabar.

“Eh, nganu.. Saya hanya ingin menengok keadaan Bu Erna.Beliau dosbing skripsi saya.”

Lelaki itu mengertnyitkan alis, tanda maksud-kamu-apa-terus.

Hana mengerang pelan. “Kamu anak Bu Erna ya? Kuliah juga?”

Kembali kernyitan yang sama.

“Oke, oke. Saya.. saya sudah sekitar satu bulan tidak menemui Bu Erna. Saya merasa buntu mengerjakan skripsi karena terlalu lama saya tinggal. Jadi..”

“Jadi kamu mau?”

“Saya ingin menanyakan apakah metode penelitian saya sudah tepat atau ada yang perlu saya tambahkan. Yah, semacam itulah.”

“Semester berapa kamu?”

“Sepuluh.”

“Dan kamu masih terjebak di metode penelitian? Well,”

“Tunggu tunggu. Kamu kok tahu saya ada di sini?”

“Sepertinya kita sama saja.”

“Maksud kamu, kamu juga..”

Lelaki itu mengangguk dan Hana melihat sekilas senyum di wajahnya.

“Aku Pandu.”

“Kamu anak Bu Erna?”

“He eh. Mau masuk? Udah mulai gerimis lagi tuh.”

Dalam sekejap saja mereka sudah berada di ruang keluarga. Ruang itu hanya diterangi lampu meja. Suara detik jam dinding berdetak-detak, berkejaran.

“Bu Erna mana?” lanjut Hana.

“Tidurlah. Ngomong-ngomong soal skripsi, santai aja lah. Aku juga baru bab dua.”

“Semester?”

“Sepuluh.”

“Hahahaa. Makanya Bu Erna nggak banyak komentar kalo aku jarang-jarang menghadap. Paling-paling manggil aku siluman.”

“Cocok.”

“Soalnya si ibu lupa namaku.”

“Oh ya, kamu sudah lama kaya gini?”

“Dari kelas dua SMP.”

Hana terpekur sejenak, lalu menjawab, “Lama juga ya? Aku malah abis ujian SMA.”

“Awalnya aku takut banget,” ungkap Pandu.

“Sama. Malah sampe sekarang aku belum nemu orang-orang yang sama kaya aku.”

“Aku mah udah sering.”

“Alhamdulillah banget ada yang sama.”

“Mau ke kamarku?”

“Boleh.”

Di kamar Pandu, Hana tercengang.

“Kamu.. kamu suka Galia?” tanya Hana ketika melihat poster Galia di dinding.

Pandu cengengesan. “Aku kan yang sering nyiptain lagu mereka.”

“Lho, bukannya si Ebeng sama Aldo yang sering nyiptain lagu?”

“Apaan. Mereka terlalu sibuk, sis. Kan mereka juga ada side pro..”

“Apah?” Hana mempertajam pendengaran.

“Ah, lupain aja.”

Hana makin penasaran. “Beneran deh, ada apa?”

“Emang kamu Galiactic ya?”

“Bukan itu. Aku kerja part time di sebuah EO. Trus kami ngundang Galia buat jadi guest star di acara tahun baruan.”

“Sumpah?” wajah Pandu mendadak panik.

“Beneran.”

Jam berdentang tiga kali.

“Oh no, aku kudu balik tidur. Besok kudu ke stasiun jam lima,” kata Pandu kemudian.

“Yah. Trus Bu Erna?”

“Kapan-kapan aja. Udah ya.”

Lalu Pandu mekangkah mendekati sosok lelaki yang sedang tertidur di ranjang. Perlahan-lahan, Pandu menyesuaikan diri dengan posisi orang itu, pria ber-Polo Shirt. Begitu Pandu memasuki raganya, lelaki di ranjang menggeliat dan melanjutkan tidur pulas.

Sementara itu, Hana termangu melihat Pandu yang kini telah lelap. Hana mengurungkan niatnya untuk menengok Bu Erna. Hana lantas memilih jalur cepat menuju kamar kos. Ia tak mau lagi bertemu dengan anak kecil itu.

Keesokan harinya, Hana berdiam diri di kamar dan menyelesaikan Bab III yang belum kelar. Setelah itu, baru ia keluar. Hana kembali teringat Pandu, dan Galia.

Hana heran mendapati ruang “kantor” sepi. Kantor yang dimaksud adalah ruangan berukuran sebesar aula yang terbagi dalam kubikel-kubikel. Biasanya ada saja yang bercokol di situ. Jika sudah seperti ini, maka hanya ada satu kemungkinan: mereka berkumpul di ruang rapat. Itu artinya.. Astaga!

Hana buru-buru menuju ruang rapat di sebelah kantor utama. Terdengar suara riuh rendah. Hana pun membuka pintu dan ia mendapati teman-temannya sedang mengobrol dengan Galia. Aldo yang katanya ganteng menjadi pusat perhatian para cewek yang ngantri foto bareng. Tampak Ebeng sedang ngobrol dengan Ganang dan Bagas. Sedangkan tiga personel lain ngobrol-ngobrol santai dengan Fani dan manajer EO lain sembari menyeruput kopi di hadapan mereka.

Nyaris tak ada yang memperhatikan kedatangan Hana, kecuali Ebeng. Mata Ebeng menatap langsung ke wajah Hana. Ia pun tersenyum, tapi Ebeng hanya memperhatikannya. Melihat reaksi Ebeng, Bagas dan Ganang pun menoleh ke arah Hana.

“Hana! Kita kedatangan tamu spesial.” Hana mendekat dengan langkah gontai. Bagas memperkenalkan Hana dengan Ebeng.

**

Malamnya, Hana kembali mengunjungi Pandu. Seperti malam sebelumnya, Pandu sedang berada di teras. Kali ini ia duduk-duduk santai sambil menikmati langit yang bertabur bintang.

“Hai…!” Padu akan beranjak ketika melihat kedatangan Hana.

“Aku pengen denger ceritamu,” potong Hana.

“Cerita apa?”

“Galia.”

“Sssstt,” Pandu memandang sekeliling. Lalu dengan setengah berbisik, “Ke kamar aja yuk.”

“Kamu yakin nggak ada yang ngikutin kamu ke sini?”

“Errr, yakin.”

“Gini ya. Soalnya kemarin malem kayanya ada yang ngikutin kamu, makanya aku langsung tidur,” jelas Pandu.

Wajah Hana pias.

“Tapi kayanya sekarang aman,” lanjut Pandu.

Lalu Pandu pun menceritakan apa yang ia ketahui.

Anggota band Galia juga punya kemampuan astral projection. Mereka pun bertemu di dunia ketika mereka sedang melakukan astral projection. Sementara itu, Pandu memang telah mengenal Ebeng sejak SMA. Mereka pernah sekelas. Pandu sempat ditawari menjadi salah satu anggota mereka, tapi ia tidak mau. Pandu lebih memilih menjadi graphic desainer dan pencipta lagu.

Lima personel Galia selalu memesan lirik-lirik bernuansa kosmik atau lirik yang sarat dengan metafora. Kebetulan, dua orang tua Pandu adalah dosen bahasa. Maka dari itu, Pandu banyak membaca tentang bahasa dari buku-buku orang tuanya. Pandu tidak menanyakan apa alasan Galia membuat lirik seperti itu. Sampai suatu ketika, Pandu iseng menciptakan lagu bertema cinta dengan nada standar dan lagu tentang persahabatan. Hasilnya, personel Galia marah-marah. Mereka pun menggubah lagu yang sudah dibuat Pandu.

Pada saat itulah Ebeng dan kawan-kawan membeberkan rencana mereka. Mereka ingin mempengaruhi pemikiran para fans dengan lagu-lagu mereka dan irama musik yang mereka ciptakan. Guntur dan Lintang, dua gitaris mereka, membuat semacam alat untuk merekam reaksi emosional fans ketika mereka menonton konser. Setelah itu, mereka mempelajarinya. Pada frekuensi tertentu, mereka akan menghentikan permainan, berpura-pura ada sambungan kabel yang salah atau mikrofon yang tidak berfungsi. Pada saat itulah, fans mulai kehilangan kesabaran.

Galia kemudian membunyikan alat dengan frekuensi yang langsung menembus gendang telinga penonton. Emosi mereka langsung tersulut. Mereka lantas membuat kerusuhan. Nah, Galia memanfaatkan kondisi ini untuk meminta tambahan honor jauh lebih besar daripada perjanjian semula. Karena mikrofon mati, karena kabel rusak, dan lain-lain.

“Otomatis, hampir semua kesalahan ditudingkan ke panitia, kan?”

“Kamu bilang alat? Namanya apa?”

“Aku nggak tahu. Tapi yang pasti, alat itu kaya amplifier kecil yang dipasang di gelang yang dipake Ebeng sama Guntur.”

“Alat dengan frekuensi itu?”

“Di gitar Lintang.”

Bayangan wajah teman-temannya di EO berkelebat. Sebagian dari mereka juga masih mahasiswa seperti dirinya. Tak bisa ia bayangkan seandainya EO bangkrut gara-gara Galia.

“Terus aku kudu gimana?”

“Emang susah kalo udah kaya gini. Apalagi mereka teman dekatku,” ucap Pandu lirih.         “Seandainya aku bisa mencegah alat itu berfungsi,” keluh Hana.

“Nah, itu dia!”

“Emang bisa, Pan?” Hana bingung.

“Tapi kita kudu kerjasama,” kata Pandu.

**

Pandu meminta tolong pamannya yang ahli elektronik untuk menjelaskan tentang bernagai jenis frekuensi. Pandu juga membaca beberapa artikel tentang fisika kuantum. Dia pun meminta pamannya untuk membuat alat yang meredam frekuensi negatif dan mengacaukan sinyal alat pemindai emosi. Pamannya sempat bingung.

Akhirnya, dengan beberapa kali trial and error, alat itu berhasil dibuat. Alat itu sebesar kartu kredit dan cara menggunakannya cukup dipasangkan di lokasi dekat frekuensi induk. Hana meminta Pandu untuk menggambar lambang EO di alat itu.

Tujuh jam sebelum malam puncak, Hana menanti Pandu datang. Ketika ia sedang mengecek pemasangan semua pernak-pernik acara malam tahun baru, Ebeng mendatanginya.

“Aku liat kamu ke rumah Pandu. Ngapain?”

Hana tersentak kaget. Lalu ia ingat penjelasan Pandu.

“Aku mau nengok Bu Erna,”

Tiba-tiba gadis berkacamata menghampiri Hana.

“Hai Ebeng!” pandangannya beralih ke Hana. “Tadi Bu Erna nanyain kamu. Kapan bimbingan lagi.”

Ebeng menatap Hana yang tersenyum puas, kemudian berlalu.

“Oh ya, tadi ada titipan dari seorang cowok, nih.” Gadis kacamata menyerahkan sebuah kotak kecil. Hana menerimanya.

“Apaan tuh?”

“Logo EO. Mau aku pasang di panggung.”

Gadis kacamata melirik ke kartu yang ada di dalam kotak. “Oh. Ehm, aku ke tenda dulu ya,” lanjut gadis kacamata.

Hana tersenyum lalu melanjutkan misinya.

**

Matahari pertama di tahun baru. Hana menghirupnya pelan-pelan, bersama kabut pagi di Promasan. Usai melaksanakan misinya, ia menuju Ungaran dan bertemu Pandu di sana. Mereka menuju Promasan bersama.

“Mission completed,” ujar Pandu di sebelah Hana.

“Yah, setidaknya untuk event ini. Sayang sekali, tuh alat cuman bisa dipake satu kali.”

Mereka tersenyum lebar.

———TAMAT——–

Karya: Rizky Amalia Ulfa

Bulu Mata Rindu

Wulan menggosok mata kanannya yang gatal. Lalu jari telunjuknya menyentuh sebuah benda kecil di sudut kelopaknya. Bulu mata. Ia tersenyum, membuat Santi, sekretarisnya, menghentikan kegiatan mengetiknya.

“Ada apa bos?”

“Hanya sehelai bulu mata yang lepas,” ujar Wulan tanpa melepas pandangannya dari bulu mata itu.

“Hmmm, kata orang-orang sih ada yang kangen. Coba deh bos taruh bulu mata itu di rambut kepala. Mereka bilang, bisa bertemu orang yang kangen kita,”

Dahi Wulan berkerut. Ternyata dongeng masa kecilnya terulang kembali. Ia mengangguk masygul, tapi diturutinya perkataan Santi.

“Emm, apakah orang itu akan langsung datang?” Tanya Wulan kemudian.

Santi menggaruk kepala.

“Ah, kalau itu sih, berdoa saja.”

“Huh, ya sudah.”

***

Sore ini langit kelabu menggantung murung. Alih-alih bergegas pulang, Wulan mampir ke kedai kopi favoritnya. Jarang sekali ia bisa pulang seawal ini. Sebagai seorang CEO di sebuah majalah khusus arsitektur, tak jarang malam-malamnya dihabiskan di kantor. Saat sedang menunggu pesanan, ia melihat seseorang yang sepertinya ia kenal membuka pintu kedai.

“Arina!” Wulan memastikan dugaannya.

Wanita berblazer coklat tua yang baru saja datang mengarahkan pandangan ke asal suara. Ia memicingkan mata, lalu bergegas menghampiri Wulan. Dengan wajah sumringah, kedua teman lama itu berpelukan.

My Gosh, kamu makin kurus aja,” kata Arina melepas pelukannya.

“Masa? Pujian apa ngeledek nih?”

“Bener. Denger-denger kamu nikah sama kakak kelas kita yang dulu ketua BEM itu ya?”

“Wow, siapa yang ngasih tahu?”

“Iya kan? Seminggu yang lalu aku sempat BBMan sama Sita. Aku dapet berita itu dari dia,”

“Sita! Ya, kami sempat bertukar PIN sewaktu aku ketemu dia di bandara beberapa bulan lalu. Udah balik dia?”

“Belum, soalnya dia bilang baru bisa rencana pulang akhir bulan ini,”

Lalu mereka berdua ngobrol ngalor ngidul tentang kenangan-kenangan masa kuliah, bertukar kabar tentang teman-teman dan mantan dosen, pak bon, penjaga kantin, dan tentu saja kehidupan mereka sekarang. Arina sekarang menjadi pengusaha konveksi ternama yang karyanya sudah merambah pasar luar negeri. Sementara Sita, dia arsitek kenamaan yang sedang mengikuti kompetisi desain kontemporer di Jerman. Satu lagi teman mereka, Anggi, istri seorang konsul negara tetangga. Kabarnya, ia juga punya butik dan kebetulan pernah bekerjasama dengan Arina.

Tak lupa Wulan bercerita tentang sehelai bulu matanya yang lepas. Mereka berdua tertawa terpingkal.

“Tentu saja aku kangen kamu, darling,” timpal Arina sembari tertawa.

“Eh, kalo Sita udah balik, kita reunian yuk?”

Arina menyeruput kopinya, “Siiip!”

**

Dalam perjalanan pulang, Wulan tak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Ia senyam senyum sendiri membayangkan pertemuan mereka. Rasanya sudah lama sekali ia tidak berkumpul bersama teman-teman, sekedar ngopi atau ngeteh bersama. Apalagi sejak ia sibuk melanjutkan S2 dan kemudian berkeluarga.

Keceriaannya berlanjut sampai rumah. Seperti biasa, rumah minimalis itu lengang. Pasti Rena masih latihan Tae Kwon Do di sekolah, mengingat ini hari Kamis. Sedangkan suaminya, sepertinya kemarin ia mengatakan sesuatu tentang rapat seminar internasional. Terserahlah, pikir Wulan. Ia pun segera mandi lalu memeriksa email dan membalas surat-surat itu, jika perlu dibalas.

Pukul delapan malam. Rena baru saja tiba ketika Wulan sedang asyik menonton televisi. Ia terlihat kecapaian tetapi gembira, tipikal orang yang habis berolahraga. Sebenarnya, agak heran juga Rena mendapati ibunya sudah ada di rumah, namun sekaligus senang.

“Hai, Ma!” Rena langsung duduk di samping Wulan.

Wulan merangkul Rena.

“Hmmm, sini Cat Woman mama. Tadi gimana latihannya?”

“Cat Woman? Mending kucing garong aja kali. Ya, latihan seperti biasa.”

Hening sejenak. Siaran televisi tentang ajang pencarian bakat mengisi jeda antara mereka. Kali ini kontestan sedang menampilkan aksi barongsaing dipadu dengan pencak silat.

Teringat sesuatu, Rena kembali membuka percakapan.

“Oh iya ma. Tadi aku sama Resti bikin puding coklat. Kayanya masih ada di kulkas deh, mau coba?”

“Kedengarannya enak. Sini, sini. Mama mau nyicip,”

Rena tersenyum lalu beranjak ke dapur. Saat Rena sedang mengambil puding, ponsel Wulan berdering.

“Halo? Ya. Uhum? Tapi pelakunya sudah ketemu kan? Apa? Sekarang? Oke. Tunggu sekitar 15 menit lagi,”

Rena baru saja datang membawa dua piring kecil puding ketika Wulan menutup telepon dan beranjak.

“Ren. Mama ke kantor dulu ya? Sepertinya ada yang membajak data perusahaan,”

“Sekarang?”

“Iya. Nanti bilangin ke papa ya,”

Rena mengangguk. Gadis empat belas tahun itu meletakkan puding di meja. Matanya nanar menatap layar yang kini menampilkan sekelompok pria yang sedang menari tango. Ia meraih remote, mengganti-ganti channel.

“Dah sayang.” Ujar Wulan seraya mengacak-acak rambut Rena. Gadis itu menoleh dan tersenyum. Seiring mobil Wulan berlalu, Rena meraih sepiring puding lalu memakannya perlahan.

**

Yudis sedang sibuk memeriksa kailnya di gudang belakang ketika Rena memanggilnya.

“Paa! Papa!”

“Di gudang!” teriak Yudis, sejenak menghentikan aktivitasnya. Kemudian kembali berkutat dengan alat pancingnya.

Rena menghampiri gudang dan mendapati ayahnya sedang berjongkok, sibuk, seperti kucing yang mengais–ngais tanah.

“Pa, aku juara dua pertandingan Tae Kwon Do!” ujar Rena setengah berteriak karena kegirangan. Yudis menoleh. Ia melihat Rena menggenggam sebuah trofi perunggu sambil tersenyum lebar.

“Wow! Ini baru jagoan! Mana, papa mau lihat trofinya,”

Rena menghampiri ayahnya. Selagi Yudis mengagumi trofi berbetuk gelas itu, Rena melihat-lihat perkengkapan pancing ayahnya yang berserakan di lantai abu-abu.

“Wah, wah, kayanya ada yang mau mancing nih,”

“Oh itu. Minggu besok ayah dan teman-teman kantor mau mancing di Karimunjawa. Mau ikut?”

“Beneran pa? Emang boleh?”

“Bolehlah. Sekalian ajak mama kamu. Siapa tahu juga mau ikut.”

Wajah Wulan begitu sumringah saat ia diajak ke Karimunjawa. Ia sudah membayangkan laut biru dan angin sejuk menerpa wajahya. Ia pun membantu mempersiapkan segala sesuatunya. Semuanya baik-baik saja hingga bel pintu rumahnya berdering.

Ketika pintu dibuka, terlihatlah dua wajah yang sangat akrab bagi Wulan.

“Anggi, Arina?” Wulan begitu terkejut melihat Anggi. Antara bingung dan senang, ia mempersilakan keduanya duduk. Mereka bertiga langsung larut dalam pembicaraan seputar reuni kecil mereka.

“Apa nggak bisa nunggu sampai Sabtu?”

“Kelamaan jeng. Aku Sabtu udah kudu ada di India. Mau liat-liat sari asli sana.” Kata Anggi.

“Aku juga kayanya mulai sibuk lagi. Mau buka cabang di Batam. Sementara Sita… Kamu tahu sendiri kan?”

Wulan berpikir sejenak. Tiba-tiba suara Rena membuyarkan lamunannya.

“Maa! Tadi kotak obat ditaruh di mana ya?”

Rena muncul menuruni tangga. Sewaktu dilihatnya Wulan bersama Anggi dan Arina, ia menutup mulut dengan tangannya.

“Ups,” Rena mengangguk sambill tersenyum lalu kembali menaiki tangga.

“Sebentar ya,” kata Wulan kepada kedua sahabatnya. Ia menyusul Rena di lantai atas. Beberapa saat kemudian, Wulan turun kembali membawa tas. Bukan ransel, namun tas wanita biasa yang ia gunakan untuk ke mall.

“Ada apa Lan?” Tanya Arina.

“Biasa. Masalah kecil. Jadi belanja?”

“Jadi dong!” Arina dan Anggi menjawab kompak.

Tak lama kemudian, Rena dan Yudis datang. Mereka berpamitan pada Wulan, tak lupa menyapa Anggi dan Arina.

“Mereka mau ke mana?” kata Arina setelah Rena dan Yudis berlalu.

“Karimunjawa.”

“Lho? Kamu nggak ikut?” timpal Anggi.

“Ah, kan kita mau reunian? Berangkat yuk!”

**

Sekali lagi Wulan melongok jam tangannya. Jam setengah sembilan. Itu berarti lewat setengah jam dari perjanjian mereka. Rumah Wulan dijadikan pilihan untuk berkumpul, karena menurut mereka, berada di tengah-tengah. Wulan sudah mempersiapkan makanan sejak tadi sore, dibantu seorang pembantu, tentu saja. Kemarin ia, Anggi, dan Arina berbelanja keperluan makan malam ini bersama.

Wulan menggosok keningnya yang tiba-tiba menegang. Mata kanannya juga terasa gatal. Ia mengusapnya perlahan, dan menemukan sehelai bulu mata menempel di telunjuknya. Tersenyum, ia meletakkan helai kecil itu di rambut kepalanya. Wulan melangkah ke halaman belakang, menghadap kolam renang kecil di sana. Ponselnya bergetar. SMS dari Arina.

Malam Lan. Sorry banget ternyata aku kudu berangkat ke Batam malam ini juga. Anggi katanya juga nggak bisa datang. Anaknya sakit. Sedangkan Sita, dia lagi di Jerman. Ada kontrak baru di sana. Maaf banget ya Lan?

Wulan mendesah. Dibalasnya SMS itu.

Okay, darl. Mungkin lain kali. Semoga urusan kalian lancar.

Wulan duduk di bangku dekat kolam renang. Pantulan cahaya dari air bersemu biru itu seperti menampar wajahnya. Ia termenung, hingga suara Rena yang berisik terdengar dari ruang tamu. Ia dan Yudis baru saja menonton teater di kampus tempat Yudis mengajar. Kedengarannya seru, sebab Rena dan Yudis tertawa-tawa geli. Wulan menghampiri mereka.

“Gimana pertunjukannya?”

Rena dan Yudis terdiam sebentar.

“Bagus. Tim kami diterima buat pentas di Bali bulan depan.”

“Hebat! Mmmm, ngomong-ngomong kalian sudah makan?”

Yudis dan Rena lempar pandang. Bersamaan mereka menatap Wulan. Rena menggeleng pelan. Wulan tersenyum.

“Makan bareng yuk? Tadi Mama masak sup ceker ayam kesukaan kalian. Oh ya, ada otak-otak udang pedas juga lho!”

Kedua orang dihadapan Wulan sempat melongo. Lalu,

“Yeee! Serbuuuu!” Teriak Rena lalu menghambur ke ruang makan. Yudis berdiri di samping Wulan.

“Makasih, sayang. Oh ya, gaun yang bagus.” Kata Yudis melihat Wulan memakai gaun cocktail biru muda. Wulan tersipu. Ia menggamit lengan Yudis dan menyusul Rena ke ruang makan. Yudis tak membahas tentang teman-teman Wulan yang katanya akan datang. Dan ternyata tak jadi datang. Wulan mengambil nasi dan memandang keluarganya makan dengan lahap. Sekarang ia tahu siapa yang merindukannya.***

Seulas Senyum Manda

Aku membetulkan posisi dudukku. Manda berjalan mendekati tempat duduk. Heran juga aku melihatnya masuk kelas beberapa saat setelah bel masuk. Badannya yang atletis dengan mantap melangkah melewati jalan sempit di antara baris-baris meja dan tempat duduk. Maklum, Manda adalah salah satu atlet lari di sekolah kami. Tak jarang, piala dan piagam digondolnya usai menang pertandingan lari antar sekolah atau antar provinsi. Anak-anak tak menghiraukan kedatangannya, kecuali si Rita yang gemas melihat rambut panjang lebatnya dikuncir ekor kuda. Rita mengibaskan rambut Manda hingga bergoyang seperti pendulum. Manda menoleh ke arah gadis keriting itu, lalu membuang muka hingga rambutnya sebagian tersampir ke bahu depan. Rita dan Agnes, teman sebangkunya, tertawa cekikikan.

“Ditunjuk lagi, Man?” Tanyaku tatkala Manda duduk di sebelahku.

“Ah, enggak. Tadi aku cuma….” Ia tak meneruskan kata-katanya karena ada seorang cowok masuk ke kelas. Itu Lana, teman atletik Manda. Lana juga sering menjuarai ajang lari. Tapi ia pelari gawang, sedangkan Manda pelari sprint. Cowok berambut agak gundul dan tinggi ramping itu masuk dengan terburu-buru, disusul serombongan cowok lainnya. Tampaknya Pak Wardi sudah datang. Benar juga, dari koridor di depan sederet kelas, sosok Pak Wardi yang tambun berjalan perlahan sambil membawa tas jinjing kulit klasik coklat muda favoritnya.

Lana yang baru saja duduk di depan kami menoleh, kemudian mencomot begitu saja buku paket Bahasa Indonesia yang tergeletak di hadapan Manda.

“Modal dong!” gerutu Manda. Lana cuek saja sembari dengan santai mengeluarkan buku tulis dari tas. Aku dan Manda melongok ke dalam tas Lana.

“Ngapain kalian liat-liat?” Lana berkata dengan jutek.

“Huu. Pantesan kamu kalo jadwal remidi nggak pernah absen.” Kataku.

“Iya. Apaan tuh, yang dibawa? Kaos oblong sama VCD? Kamu mau buka lapak?” Manda menimpali.

Lana berdecak kesal. Febri, teman sebangku Lana yang sejak tadi sibuk mencorat-coret halaman belakang buku tulisnya, angkat bicara, ia menoleh ke arah Lana, Manda, dan aku. “Ssssssttt.” Jari telunjuknya ditempelkan di bibir. Pak Wardi memasuki ruang kelas. Dalam sekejap, semua terdiam.**

“Eh, kamu masih utang cerita ke aku.” Tagihku ke Manda usai pelajaran.

Si rambut panjang dengan cekatan membereskan buku-bukunya. Sejenak kemudian, ia memandang sekeliling kelas.

“Abis ini BK kan?” Ia malah balik bertanya.

“He eh. Katanya tadi kamu mau cerita.” Cecarku.

Manda meringis. “Entar aja ya, pas istirahat kedua.”

“Nggak bisa, aku mau nyelesaiin tugas Kimia.”

“Ya udah, pas pulang aja. Kita mampir ke Yamin Super.”

Aku mengangkat bahu.

Sepulang sekolah, aku dan Manda memesan seporsi mie yamin komplit di warung Yamin Super tak jauh dari sekolah. Perutku sedari tadi sudah keroncongan, apalagi belum sarapan dan waktu istirahat aku malah mengerjakan PR.

“Nah, sekarang saatnya.” Kataku ke Manda sembari kami menunggu pesanan datang.

“Ehmm.” Manda malah clingak-clinguk. Bukan tipikal Manda yang agak macho. Setelah memastikan keadaan aman, Manda mulai tersenyum. Aku menunggu jawaban.

“Mmmm, menurut kamu, Lana ganteng nggak?”

Aku terbelalak. Oh my gosh. Telapak tanganku menutup mulutku yang mulai terbuka, takut tiba-tiba berteriak. Akhirnya, aku hanya bisa memekik pelan lalu terkekeh.

“Duh, tuh kan?” Manda menggaruk dahinya, ekspesi kalau dia lagi salah tingkah.

Aku menghela napas. “Serius?”

Manda mengangguk.

“Sejak kapan kamu naksir dia?”

“Aku nggak tahu Lis. Mungkin udah sejak kita sering latihan bareng.”

“Dia tahu?”

“Enggak lah!”

Obrolan kami terhenti dengan datangya mie yamin yang menggugah selera, disusul satu gelas es jeruk dan segelas teh tawar hangat. Selanjutnya kami terbius dengan mi dan melupakan masalah Manda dan Lana.

“Eh, trus trus. Kamu mau ngomong kapan?” tanyaku lagi usai makan.

“Ngomong apa?”

“Yaelah. Ngomong ke Lana lah. Kalo kamu naksir dia.”

Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya. Sebelum menjawab, diseruputnya teh tawar hangat. “Nggak usahlah. Aku kan cewek.”

Aku tertunduk. Kadang menjadi cewek memang ribet kalau sudah urusan beginian. Nggak apa-apa sih ngomong. Hanya saja, seringkali kita malah sakit hati sendiri kalau ternyata bertepuk sebelah tangan. Selama beberapa saat, kami hanya duduk termangu sambil menikmati sisa minuman masing-masing.

“Tapi awas lho. Jangan bilang siapa-siapa, apalagi Lana.” Manda meneruskan tiba-tiba.

Aku mengangguk.**

Keesokan harinya, aku sengaja berangkat lebih pagi. Buku catatan Biologiku yang sudah tiga hari dipinjam Lana belum juga dikembalikan. Mana besok ada ulangan lagi. Aku menunggu dengan sabar di tepi lapangan. Pas hari itu jadwal Lana, Manda, dan beberapa atlet sekolah latihan. Aku melambai ke arah Manda. Ia tampak segar bugar dengan kaos hitam lengan pendek dan celana training abu-abu. Sementara itu, Lana sedang senam pendinginan. Manda menghampiriku.

“Tumben kamu nungguin aku.”

“Yee. Aku mau ketemu Lana.”

Air muka Manda memerah.

“Mau ngambil buku.”

Manda tersenyum. “Kita udah rampung kok. Paling-paling abis ganti dia lewat sini.”

“Oke. Aku tunggu.”

“Aku ganti dulu ya!” Manda berlalu.

Tak lama, Manda sudah berpakaian seragam rapi, menggendong tasnya sambil melangkah riang menemuiku.

“Errr, Lis. Kayanya Lana lewat pintu belakang deh. Dari situ kan deket ke kantin.”

Aku memutar bola mata.

Sesampai di kelas, ternyata tas Lana sudah nangkring manis di bangkunya. Aku yang sudah tak sabar, menggeledah ransel hitam itu. Saat aku sedang mengeluarkan beberapa buku tulis, salah satunya terjatuh dan terbuka. Aku meraihnya dan membaca huruf-huruf balok fancy tertulis di salah satu halamannya. Mataku membelalak.

“Ada apa, Lis?” Manda meraih buku itu dan reaksinya kemudian hampir sama denganku.

“Mungkin artis itu. Santai aja, Man.” Aku mencoba menenangkan. Tapi rupanya Manda juga teliti. Di sebelah huruf-huruf yang membentuk kata “AGNES” itu tertulis juga dua huruf yang lebih kecil: c.t. Kami segera paham, dia tak lain adalah Agnes Cecilia Tantowi, teman sekelas kami. Aku dan Manda berpandangan, kemudian mengarahkan mata ke bangku depan milik Agnes yang masih kosong.

“Hey kalian!” sebuah suara mengagetkanku. Manda tersentak. Lana menghampiri kami. Ia merebut buku bertuliskan nama Agnes dari tangan Manda dengan kasar.

“Eh, Lana. Kembaliin buku aku!” aku takut Lana marah-marah pada Manda.

“Iya, cerewet. Tapi jangan ngoprak-oprak tas orang seenaknya dong.”

“Yee. Kalo nggak begini mana inget kamu ngembaliin barang orang?”

“Kamu baca apa aja?” tanya Lana datar.

Aku dan Manda berpandangan, lalu kataku,

“Ka…mu suka sama Agnes?”

Kali ini Lana yang kaget, lalu melihat halaman yang tadi Manda dan aku baca. Ia menghela napas panjang.

“Iya.Tapi inget. Jangan ember!” ia memandang kami berdua bergantian.

“Oke, oke. By the way, buku aku dong!” aku menengadahkan tangan kananku.

“Aduh! Perutku mules nih.” Manda langsung ngacir.

Sementara itu, Lana mengais-ngais tasnya dan menyerahkan bukuku lalu pergi ke luar kelas. Aku melihat jam dinding. Baru pukul tujuh kurang lima belas. Pantesan sepi. Aku pun melangkah ke luar dan duduk-duduk di bangku taman.

Manda masuk kelas tepat saat bel berdering panjang. Matanya memerah dan sedikit kelihatan membengkak. Aku tahu ia tak habis buang hajat. Ya, mungkin hajatnya terbuang dalam bentuk lain.

“Manda, kita latihan lagi kapan sih?” Lana menoleh ke arah Manda. Tapi wajah Manda menelungkup di atas meja, punggungnya agak membungkuk. Lana menyabetkan LKSnya yang digulung di tanganku.

“Sssh, Hm!” Lana memberi kode sambil dagunya di arahkan ke Manda.

“Gara-gara kamu sih, tadi latihan malah ninggal.”

“Lho? Apa hubungannya sama aku?”

“Perutku masih sakit.” Manda menyahut masih dalam posisi yang sama.

“Ooooh, tamu bulanan. Udah sana Lan. Nggak usah ganggu lagi. Hush!”

Lana berbalik lalu mengobrol dengan teman yang duduk di depannya.

Aku menepuk bahu Manda. “Man, mau ke UKS?”

Ia mengangkat wajahnya yang memerah, nafasnya masih tersengal, menggelengkan kepala. Dengan lesu ia mengeluarkan LKS dan pulpen. **

Sore ini aku membatalkan janji dengan cowokku. Dari nada bicaranya, sepertinya dia kecewa karena inilah kesempatan langka, mumpung dia pulang kampung. Jadwal kuliahnya yang masih padat tak memungkinkannya untuk sering pulang. Aku mengajak Manda nonton konser band indie di salah satu kafe di kota. Manda setuju. Ternyata kami datang lebih awal dari jadwal, jadi kami bisa memilih tempat duduk sesuka hati. Manda menunjuk salah satu bangku di deretan depan. Aku mengiyakan. Tak lama, pengunjung yang lain berdatangan. Diantara mereka, tampak seorang gadis berkulit kuning langsat mengenakan t-shirt biru, rompi putih, dan skinny jeans. Rambut shaggy-nya membuat aku dan Manda cepat mengenalinya, ya, Agnes. Ia datang bersama tiga anggota gengnya yang lain. Entah kebetulan atau disengaja, ia dan teman-temannya duduk di sebelah aku dan Manda. Tak banyak yang kami bicarakan, hanya ber-hai-hai ria dengan wajah yang dibuat riang.

Pemandu acara segera membuka pertunjukan dan sedikit berbasa-basi menyebutkan urutan nama-nama band yang akan tampil. Setelah itu, beberapa orang keluar dan melakukan check sound. Manda terkesiap saat melihat salah satu gitaris band. Matanya membelalak. Itu Lana. Aku melihat reaksi Manda selanjutnya, ia menunduk dan sepertinya memejamkan mata, menarik napas panjang dan berat, lalu mengembuskannya.

“Man?”

It’s okay.” Ia menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Sorak sorai dan tepuk tangan penonton mengiringi gebukan drum sebagai intro lagu pertama. Alunan alternative rock dan lagu yang terdengar putus asa mengalun. Tak lama, terdengar suara berisik Agnes yang memberi komentar ini itu tentang penampilan Lana cs. Kebanyakan sih mengkritiknya. Teman-temannya memberi komentar serupa, sehingga konsentrasiku terganggu. Tampak Manda melirik kesal ke arah mereka. Begitupun dengan lagu kedua, dan ketiga. Manda yang mulai kehilangan kesabaran menegur Agnes.

“Sssst. Diem bentar kenapa sih?”

“Eh, suka-suka dong. Kenapa? Nggak trima?”

“Brisik tau! Kamu kira penontonnya kamu doang apa? Please deh.”

Agnes melempar pandang ke arah panggung, matanya menangkap Lana.

“Haaa. Ketahuan deh. Kamu mau ngebelain pacarmu kan?”

“Apa?!” Manda sewot.

“Alaaah, ngaku aja. Kamu nggak trima kan, aku ngejelek-jelekin Lana?”

Manda terdiam, menelan ludah. Agnes merasa dapat angin segar.

“Iya kan? Udaah, ngaku aja! Cewek kaya kamu ini mana tahu soal musik bagus.”

Aku tak bisa menahan diri, bangkit dari duduk. Band Lana masih memainkan lagu, sepertinya bagian riff. Penonton di belakangku menyuruhku duduk. Aku malah bangkit meghampiri Agnes.

“Eh, kalo ngomong tuh dijaga ya! Sebenernya…”

“Apa lagi kamu?!” Agnes memandangku meremehkan.

“Asal kamu tahu ya, Lana tuh naksirnya sama kamu!” aku menudingkan telunjuk tepat di depan hidung Agnes. Si shaggy tersentak.

“Huuuuu!” teriak teman-temannya yang lain, disusul siulan dari arah belakang. Tepat pada saat itu, permainan band berhenti.

Manda yang duduk di belakangku segera meninggalkan ruangan. Sepintas aku melihat Lana menatapku tajam, sambil berlalu dari panggung. Tiba-tiba aku sadar apa yang barusan aku bicarakan.

“Me… Manda!”**

Hari-hari berikutnya, tak ada lagi serobotan jahil Lana yang entah minjem buku paket atau correction pen. Kali ini, Febri-lah yang mengambil alih tugas Lana. Gosip tentang Lana yang naksir Agnes dan Manda yang naksir Lana cepat menyebar. Tak sedikit teman-teman sekelas menanyakannya padaku. Biasanya aku hanya tersenyum simpul dan pura-pura ada urusan di ruang OSIS atau mencari buku di perpus atau langsung pulang. Di kelas pun, tak jarang Manda, Agnes, dan Lana jadi bahan olokan.

“Elis!” seseorang menyapa dengan suara keras. Aku berbalik. Dari arah gerbang, tampak Manda berlari-lari kecil ke arahku, rambut ekor kudanya bergerak seperti pendulum.

“A… Aku..” Manda berkata tergagap, lalu melanjutkan,

“Aku kemarin udah cerita yang sebenernya ke Lana.”

“Hah? Trus?”

“Dia cuma bilang makasih.”

Hening sejenak.

“Ma, Maaf ya Man.” Ujarku lirih.

Manda tersenyum. “Nggak apa-apa kok. Emang awalnya aku nyesek, tapi aku pikir nggak ada gunanya stuck di orang yang jelas-jelas nge-friend-zone kita.”

Aku malah menunduk.

“Masuk yuk. Aku belum kelar ngerjain tugas bikin contoh majas nih.”

  Di kelas, seperti biasa, Lana dan rombongan masuk setelah melihat guru melangkah di koridor. Lana menyerobot buku paket Manda, lalu bilang,

“Manda, malem ini ada acara nggak?”

Manda malah kebingungan.

“Nonton yuk! Aku nggak ada temen nih. Oke? Oke!” Lana segera berbalik menghadap depan.

“Aku nggak diajak?” Febri menimpali. Lana membalasnya dengan jitakan di kepala.

Manda tercekat kemudian tersenyum lebar ke arahku. Aku hanya berdehem. ***

(Love(?)) Stories

I remember a quotation from Iris, a character in “The Holiday” who said that most love stories tell about two people loving each other. That’s true. There are minorities never been told, those who experience “unrequited love” (if you consider love as letter or email or text).

Anyway, I would not write about the unrequited love whatsoever. It takes more and more explanation out of my post this time.

These days I’ve spent most of my time reading novels just to kill the tik-tok-ing clock like hell. They do not belong to me, since I am not at my own home for the time being. Have you read “Restart”, “Always, Laila”, and “Hujan dan Teduh”? If you are an Indonesian, you may have read them or one or two of them. The theme is similar: love.

Love with happy ending, except “Always, Laila.” But I see that they share mutual type of the heroine: smart and beautiful. And the authors do not let the main characters in poverty. You know what I mean.

What a shame. They say, money cannot buy happiness. Nonsense. I don’t believe it. Especially in Restart, the heroine (Syiana) is portrayed as a workaholic banker, she has car, she has father and brother who love her, she has two supportive bestfriends, they, of course, as rich as the heroine. Even though she was dumped by her ex, but with all features she possesses, there is no need to wait forever to find another one. She met a musician named Fedrian, and the story goes. Syiana believes that Fedrian is not compatible with her since he is only a musician, an artist which does not have stable income to make both ends meet. Nevertheless, Fedrian is actually a Columbia University graduate. You see, even the author cannot bear that the heroine’s capability surpasses the man’s. And after some typical fuss, they can finally make it up and live happpily ever after.

In Always, Laila, the heroine is depicted as a deadly beautiful girl and the reincarnation of Queen of Malaka Kingdom in the past. While the hero, he is a reincarnation of the king. However, this reincarnation business is not well-finished. The writer seems to lost focus and yeah, you know. But as I wrote before, the heroine is bautiful and smart. If she is not smart, it is impossible for her to enroll aviation engineering department. And she is lucky with lovely people around her. They love her because she is beautiful and, you know, sweet as hell, and spoiled. In my reality, spoiled girls are kicked out from society they belong. But I cannot deny that bastards love spoiled, attached girls. That kind of girl is considered as sweet and cute. WTF. But fortunately, the realtionship between the Heroine (Laila) and Pram ends up when Pram is dead because of an accident at work.

Hujan dan Teduh has its own story. A lesbian girl, Bintang, becomes straight when she meets Noval. But Noval is very possessive. The couple even make love that Bintang falls pregnant and unwillingly aborts her baby and later Bintang finds that she cannot give birth for the rest of her life. Something like that. Though Noval is goddamn jealous, irresponsible boy, Bintang accepts his proposal and they likely to be married.

Hhhhmmmh, love, love. A classic writer once declared that love is such “heavy” topic. But under popular culture epoch, love is not considered as that heavy and even, love loses its “purity.” Love and pleasure is paired together that make up most love stories nowadays. Look, there are rarely love stories among bums, outcast, minorities, and low-casted people. The characters live in utopia, a place that can be used to escape from broken heart and disappointment of love. They always find that condominium with fridge full of ice cream to melt their stressed mind (because of love, of course), tender bed to sleep, expensive couch, nice car to bring them everywhere they want. There are almost no characters being left in infernal misery, having no hut, no job, nobody, nothing.

Hell yeah. In short, popular culture have taught us that material possession is placed before that spouse-searching business. Love is a monetary business.

Do you want to buy love?

Asal Mula Kata Lucu

Alkisah, dahulu kala ada seorang gadis muda dari China bertandang ke Indonesia. Saat itu, Kerajaan Sriwijaya sedang berkembang. Gadis China itu biasa dipanggil dengan sebutan Nona Lu. Seperti kebanyakan perempuan Asia Timur, Nona Lu ini memiliki kulit kuning langsat yang halus. Bibir mungilnya proporsional dengan hidungnya yang berukuran sedang. Matanya tidak begitu sipit dan bulu matanya tidak lebat. Alisnya tipis saja. Rambutnya yang sepinggang hitam tak begitu lebat. Itulah sebabnya ia lebih senang mencepol rambutnya dan menyematkan tusuk konde berbandul mutiara putih. Nona Lu sederhana dalam berbusana. Pakaian sehari-harinya ya baju tradisional China, berkerah Shanghai, berlengan pendek atau panjang. Namun di antara semuanya, pakaian favoritnya yaitu gaun sederhana berwarna merah muda terbuat dari sutera halus, berlengan panjang. Pinggirannya dihiasi bordiran bunga-bunga warna pastel.

Nah, Nona Lu ini datang ke Indonesia dengan satu alasan: menyusul keluarganya yang tersisa. Kedua orang tuanya di China meninggal karena serangan wabah misterius. Mereka memang mewariskan sebuah toko bahan makanan. Akan tetapi, Nona Lu belum pandai berdagang. Sementara itu, asisten pribadi ayahnya, Paman Wang, sedang dalam perjalanan di Persia. Kabar terakhir yang Nona Lu terima, Paman Wang masih berhalangan pulang karena ada badai pasir besar. Karena ia anak tunggal, Nona Lu memutuskan untuk sementara menutup tokonya. Ia pergi mencari saudara semata wayang ayahnya yang tinggal di Indonesia, Bibi Chen An. Ia dan suaminya sudah sekitar lima tahun berdagang keramik di sekitar pusat ibukota Sriwijaya.

Nona Lu berharap, ia dapat belajar berdagang dari kedua bibi dan pamannya. Nona Lu pergi hanya berbekal beberapa potong pakaian praktis, beberapa aksesoris, dan sejumlah uang. Kebetulan, uang yang disimpan orang tuanya diletakkan dalam sebuah brankas yang Nona Lu tak tahu keberadaannya. Dahulu, ayahnya pernah berkata, Nona Lu belum cukup umur untuk mengetahui di mana uang cadangan itu. Kini, saat ia sudah menginjak usia 20 tahun, orang tuanya malah pergi secara tiba-tiba dan lupa mengatakan hal penting itu. Tapi satu hal yang ia syukuri, orang tuanya tidak pernah memaksanya cepat-cepat menikah. Lagi pula, ia belum menemukan seorang pemuda yang cocok dengan kriterianya. Beberapa kerabat dulu sering menyindirnya, karena tak kunjung berkeluarga di umur yang hampir kepala dua. Inilah alasan lain lagi. Jika si nona tetap bertahan di China, kerabat-kerabat yang selalu ikut campur itu pasti akan mendesaknya agar segera menikah.

Jadi di sinilah ia. Di sebuah jalanan pasar yang penuh dengan hiruk pikuk transaksi perdagangan. Orang Arab yang menawarkan permadani, orang Asia Timur yang menjual keramik, sutera, dan mutiara, serta orang-orang pribumi berkulit coklat membuka kedai-kedai makanan atau berjualan ikan dan sayur mayur. Ada pula yang hilir mudik mengangkut karung-karung besar berisi barang dagangan maupun mendorong gerobak. Nona Lu melangkah sambil melihat-lihat sekeliling. Udara di sini agak lebih panas dibandingkan di negaranya. Tapi ia sekaligus takjub bahwa orang-orang yang berbeda-beda ini tak menunjukkan adanya persaingan sengit. Mungkin ada hal lain yang belum kuketahui, pikirnya. Akhirnya ia berhenti di salah satu rumah makan milik seorang Tionghoa. Nona Lu belum pandai berbahasa Melayu. Sambil mengamamati tulisan alamat di kertas yang ia genggam, ia menunggu sup kerang dan teh hangat pesanannya.

“Emm, permisi. Apakah anda mengenali alamat ini?” Nona Lu bertanya kepada pelayan yang mengantarkan makanan seraya menunjukkan kertas itu.

Si pelayan membacanya.

“Oh, daerah ini dekat kok dari sini. Anda jalan saja ke arah timur. Nanti akan anda jumpai semacam alun-alun yang di tengahnya ada beringin besar. Nah, di situ ada jalan simpang empat. Ambil yang ada gapuranya. Masuk saja ke jalan bergapura itu. Itu memang pemukiman sebagian besar pedagang dari Tiongkok.”

Nona Lu mengucapkan terima kasih dan memberi sekeping koin perak. Si pelayan tertegun sejenak, lalu permisi dari hadapan Nona Lu.

Usai makan, Nona Lu melanjutkan perjalanan seperti yang tadi diinstruksikan oleh si pelayan. Ia pun tak kesulitan menemukan jalan bergapura itu. Ya, jalan khas pecinan. Begitu Nona Lu memasuki kawasan itu, ia serasa kembali ke kampung halaman. Beberapa anak kecil berlarian sambil membawa layang-layang berbentuk naga atau liong, sementara di kanan kirinya deretan rumah bernuansa oriental dengan pintu-pintu kayu yang datar, serta hiasan lampion di depan rumah dan balkon. Nona Lu mencocokkan papan nama di setiap rumah yang ia lewati dengan alamat di kertasnya.

Sekitar sepuluh rumah kemudian, ia menemukan alamat yang ia cari. Rumah itu dipagari tembok yang cukup tinggi. Pintu gerbang kayunya yang tebal dicat merah bata. Nona Lu mengetuk pintu itu. Tak lama, pintu dibukakan oleh seorang remaja laki-laki berbaju khas china warna coklat pudar.

“Selamat siang. Saya ingin bertemu dengan bibi Chen An.”

“Anda siapa?” tanya remaja botak itu.

“Saya Lu, keponakannya dari China. Ini tanda buktinya.” Nona Lu menyerahkan sepucuk surat kepada si bocah lelaki. Remaja itu bergegas masuk rumah dengan membawa surat itu.

“Ohoho! Lihat siapa yang datang!” Suara renyah Bibi Chen An membarengi penampakannya yang muncul dari dalam rumah. Tubuhnya masih agak tambun seperti dulu. Hanya saja, kulitnya yang dulu kemerahan sekarang menjadi sedikit kecoklatan. Namun itu tak melenyapkan rona di pipinya yang penuh.

“Bibi!” Nona Lu segera menghambur memeluk bibinya.

“Kau sendirian, nak?”

“Tidak bi. Saya diantar Pan Li dan suaminya sampai di pelabuhan China. Mereka yang mengurus perjalanan ini.”

“Syukurlah. Ayo masuk. Pasti kamu kelelahan.”

Nona Lu sedikit pangling dengan ketiga keponakannya yang sudah beranjak remaja. Rupanya, yang tadi membukakan pintu itu adalah anak bungsu bibinya yang berusia tiga belas tahun, San En. Anak pertama laki-laki, lebih tua lima tahun dari yang bungsu. Namanya Wu En. Sedangkan yang kedua, seorang gadis manis lima belas tahun, bernama Lin. Saat itu pamannya sedang berada di pelabuhan mengontrol pengiriman barang.

“Jadi, kamu serius belajar dagang?” tanya Bibi Chen An.

“Ya mau apa lagi? Aku kan butuh uang.”

Bibi Chen An menuangkan teh.

“Baiklah. Oh ya, bibi sudah siapkan kamar. Ada di sebelah kamar Lin. Biar Tasha yang tunjukkan.”

“Makasih ya, bi.”

Bibinya memanggil salah satu pelayan, Tasha. Ia gadis keturunan Indonesia-India. Mungkin usianya sebaya dengan Nona Lu, atau bahkan lebih muda.

“Mari.” Tasha tersenyum ramah mempersilakan Nona Lu menuju kamarnya.

Tak terasa sudah hampir sebulan Nona Lu di pusat Kerajaan Sriwijaya, di sekitar Palembang. Paman An mendatangkan seorang ahli keuangan, Tuan Rangga, untuk mengajari Nona Lu dasar-dasar bisnis serta Bahasa Melayu. Rupa-rupanya, Nona Lu cepat menerima pelajaran. Ia juga cukup kritis menanggapi beberapa studi kasus yang Tuan Rangga berikan. Biasanya, setelah pelajaran, Bibi Chen An mengajak Tuan Rangga makan siang bersama atau sekedar minum teh sore. Tuan Rangga punya beberapa hektar sawah dan sekitar satu hektar kebun cengkeh. Dua orang anaknya menjadi duta kerajaan dan sering berlayar.

Setelah kira-kira enam bulan mempelajari teori, kini saatnya Nona Lu kerja lapangan. Paman An berangkat ke tokonya di dekat pelabuhan sebelum matahari benar-benar terbit. Nona Lu mengikut saja. Ia mendata kualitas keramik yang akan dijual. Selanjutnya, ia juga belajar melobi calon konsumen dan promosi.

Suatu hari, sewaktu sedang berjalan-jalan santai usai menyortir keramik, Nona Lu melintas di depan sebuah panggung terbuka. Rupanya ada pertunjukan sandiwara rakyat. Nona Lu memasuki arena pertunjukan, lalu duduk di barisan kedua dari depan. Sandiwara itu bercerita tentang perjalanan dua orang Persia beserta sepuluh orang pembantu mereka.

“Sungguh satiris.” Ujar seorang pria muda di sebelah Nona Lu.

“Maaf?” Nona Lu menoleh.

Pria itu memalingkan wajah ke Nona Lu. Dilihat dari tampangnya, tampaknya ia juga seorang China. Rambut pendeknya disisir rapi ke belakang. Ia memakai kemeja biru tua dan celana panjang hitam. Wajahnya lonjong dengan dahi yang agak tinggi namun tidak menonjol. Perawakannya sedang.

“Ah, maksud saya, sandiwara ini begitu menyindir keadaan masyarakat kita akhir-akhir ini. Semuanya tampak baik di permukaan. Namun, siapa yang tahu?”

“Hmmm. Begitu ya? Saya baru sekali ini menonton sandiwara Melayu.”

“Apa?” si pria berkomentar, lalu terkekeh.

“Saya baru delapan bulan tinggal di sini, belajar berdagang.”

Pria itu lantas tersenyum. “Saya Chu Luan Po. Orang-orang biasa memanggil saya Tuan Chu.”

“Saya Lu Tian An.”

Kedua pasang mata mereka bertemu. Nona Lu segera mengalihkan perhatian.

“Anda sangat menyukai seni ya?” tanya Nona Lu seraya melihat ke panggung.

“Terutama seni drama. Saya sempat sekolah sastra di Tiongkok dan sempat ikut salah satu kelompok drama di sana. Setelah ikut orang tua saya ke sini, saya hanya sering berkirim surat kepada kawan-kawan dan membuat beberapa catatan.”

“Tampaknya menarik.”

“Bagaimana dengan Anda, Nona Lu?”

“Saya, saya.. selalu kagum dengan puisi. Namun tak berpikir ke arah situ.”

“Kenapa?”

“Saya ingin melanjutkan usaha dagang orang tua saya.”

“Wow. Mereka pasti bangga ya.”

“Mereka… Sudah meninggal. Setahun yang lalu.”

“Oh, maaf.”

Nona Lu tersenyum. Adegan terakhir segera dimulai. Mereka menyaksikannya tanpa komentar.

Tuan Chu mengantar Nona Lu pulang. Katanya, ia akan mengunjungi sahabatnya yang kebetulan satu blok dengan rumah Paman dan Bibi Nona Lu. Mereka berbincang bincang tentang beberapa hal random, terutama tentang negeri mereka, China. Tuan Chu banyak bertanya tentang keadaan China. Begitu juga Nona Lu, menyatakan ingin lebih mengenal tempat baru ini. Ia bersyukur, akhirnya bertemu teman sebaya juga di negeri orang asing.

“Jadi, kapan anda ada waktu senggang lagi?” Tanya Tuan Chu sewaktu mereka hampir sampai di rumah Nona Lu.

“Emm. Saya biasanya libur di akhir pekan, mulai Sabtu tengah hari hingga Minggu seharian penuh.”

“Kalau begitu, maukah anda menonton lagi sandiwara rakyat?”

“Tentu saja.”

“Baiklah. Minggu depan saya akan mengunjungi anda. Bagaimana?”

“Ide bagus!”

Nona Lu berhenti. “Kita, maksud saya, saya sudah sampai.”

Tuan Chu membaca papan nama di tembok.

“Baiklah, Nona. Selamat malam!”

“Ya. Terima kasih.”

Akhir pekan berikutnya, Tuan Chu mengajak Nona Lu menonton drama. Kali ini berada dalam ruangan. Drama itu diselenggarakan oleh pihak kerajaan dan disaksikan pula oleh para patih dan beberapa pejabat. Kali ini nuansanya lebih ceria dan ceritanya pun cukup spiritual, yaitu tentang kisah Sang Buddha.

“Ngomong-ngomong, saya penasaran sekali dengan catatan yang anda buat itu.” Kata Nona Lu usai pertunjukan.

“Benarkah?”

Nona Lu mengangguk.

“Mari kita ke rumah saya.”

Begitu sampai di depan sebuah restoran China, Tuan Chu berhenti.

“Ini rumah saya.”

Nona Lu mengamati restoran itu.

“Wow. Saya sudah pernah ke sini sebelumnya.”

Tuan Chu menoleh.

“Ya! Saat pertama kali datang ke sini. Saya behkan sempat bertanya alamat kepada salah satu pelayan.” Kata Nona Lu.

“Dunia begitu sempit.”

“Sepertinya begitu.” Nona Lu terdiam sejenak, lalu melanjutkan.

“Saya suka sup kerangnya.”

“Dan anda akan menyukai semuanya.”

Tuan Chu memasuki restoran itu, lalu menuju ke lantai atas. Nona Lu mengikutinya. Tuan Chu mengeluarkan beberapa buku dan sebuah gulungan dari sebuah lemari.

“Kemari.”

Tak lama, tampak mereka berdua tenggelam dalam kumpulan manuskrip drama dan puisi-puisi. Nona Lu juga membawa sebuah puisinya. Ia simpan di dalam saku roknya,sehingga kertas coklat itu lusuh tak beraturan.

“Aku juga punya satu.”

Tuan Chu menerima puisi itu lalu membacanya.

“Dari mana kau belajar menulis?”

“Aku menulis hampir tiap hari. Hanya saja, akhir-akhir ini aku terlalu sibuk dengan bisnis…”

“Nona Lu,”

“Jangan panggil Nona lagi. Kita teman kan?”

“Baik. Lu, ini.. sangat bagus. Bagaimana kalau aku kirimkan ke temanku di China?”

“Tapi jangan dengan kertas itu.”

“Kalau begitu, jangan panggil aku ‘tuan’ lagi.”

Senyum Nona Lu terkembang. Matanya berbinar-binar. Setelah itu, Tuan Chu mentraktir Nona Lu makan di restorannya. Pelayan yang tempo hari dengan cepat mengenali Nona Lu. Mereka berdua tersipu.

Minggu-minggu berikutnya, Nona Lu dan Tuan Chu semakin sering menonton acara drama dan bahkan mengunjungi satu-satunya perpustakaan kecil di kota. Mereka juga sering berdiskusi dengan sekelompok pecinta seni dan syair di alun-alun atau di restoran Tuan Chu. Inilah salah satu alasan mengapa Tuan Chu memilih bisnis restoran, yaitu, agar bisa menjadi tempat diskusi yang nyaman. Orang tuanya sudah pindah ke Jawa. Namun Tuan Chu terlanjur menyukai tempat ini, pusat kerajaan maritim terbesar. Lama kelamaan, minat Nona Lu semakin besar terhadap seni puisi.

Ia ingin lebih mendalaminya. Akan tetapi, ia juga tidak enak hati terhadap keluarga An yang telah berbaik hati mengajarinya cara berdagang. Maka suatu hari ketika berdua saja di salah satu kedai kopi, Nona Lu mengutarakan unek-uneknya kepada Tuan Chu.

“Saya jadi bingung.” Pungkas Nona Lu.

Tuan Chu diam sejenak, lalu menghela napas. Ia memalingkan muka ke arah jalanan yang kali ini tampak sepi. Lalu..

“Lu, apakah kamu pikir kita bisa hidup bersama?”

“Hi.. dup, hidup bersama?”

“Ya. Kita bangun drama kita sendiri.” Tuan Chu menatap Nona Lu yang kali ini membiarkan rambutnya tergerai.

“Maksudnya apa?” Nona Lu malah balik bertanya.

“Ya kita, kita mendirikan kelompok drama sendiri.”

Kini Nona Lu semakin yakin apa motif di balik pernyataan Tuan Chu. Ia menyeruput kopinya yang tinggal separuh cangkir.

“Jadi?” Nona Lu berkata kemudian.

“Maukan kau, menikah denganku?”

Nona Lu meletakkan cangkirnya. Ia tertunduk. Saat mengangkat wajahnya, ia tersenyum lebar sambil mengangguk pelan.

Maka begitulah, sekitar sebulan kemudian mereka melangsungkan pernikahan. Pestanya ramai, namun tidak mewah. Hanya menggunakan adat China dengan aneka pernak-pernik warna merah dan ada petasan serta kembang api kecil-kecilan. Nona Lu berpamitan pada kedua walinya. Setelah itu, ia dan suaminya, Tuan Chu, pindah ke kediaman sekaligus restoran Tuan Chu.

Kehidupan baru pasangan suami-istri itu tergolong bahagia. Mereka punya misi yang sama: membentuk sebuah kelompok drama yang akan lebih meramaikan dunia seni dan hiburan. Maka dirombaklah sebagian dari isi restoran Tuan Chu. Pasangan baru itu menambah lebar ruangan sekaligus membangun panggung yang cukup untuk pementasan. Setelah beberapa bulan, panggung dan restoran itu siap. Tuan Chu dan Nona Lu segera mengumpulkan para pelakon berbakat dan juga penulis yang bagus. Pementasan pertama yaitu saat bulan sabit muncul di bulan April. Mereka memainkan sandiwara Na Cha. Para pemainnya pun sebagian besar orang keturunan China. Pementasan itu tergolong sukses. Banyak seniman terkemuka datang ke acara itu.

Akan tetapi hal itu tak berlangsung lama. Bulan demi bulan jumlah penonton semakin sedikit dan juga satu per satu pemain mengundurkan diri. Alasannya macam-macam. Ada yang akan segera menikah, pindah rumah, sakit, dan juga ada yang ingin berkonsentrasi ke bisnis keluarga. Ditambah lagi, saat itu terjadi masa-masa pergolakan di dalam lingkungan istana. Tentu saja hal tersebut mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan rakyat.

“Suamiku, apa tak sebaiknya kita tutup dulu pementasan drama?” kata Nona Lu suatu malam.

“Hhhh. Tidak. Kita harus tetap yakin. Keadaan ini hanya sementara. Jika bukan kita, lalu siapa lagi yang akan mengembangkan hiburan rakyat?”

“Kan masih banyak orang. Kita fokus ke pengelolaan restoran dulu. Bagaimana?”

“Pokoknya, keduanya harus jalan. Pementasan dan restoran.”

Tuan Chu menaiki tempat tidur.

“Aku ngantuk. Jangan lupa, nanti kau kunci jendelanya.”

Keesokan harinya, Bibi Chen An dan Lin mengunjungi Nona Lu. Saat itu si Nona sedang memilih daun teh yang layak seduh dan menyingkirkan yang sudah kadaluwarsa. Bibi Chen An mendesak Nona Lu agar meninggalkan dulu dunia hiburan rakyat. Apalagi, kabar kebangkrutan Tuan Chu kian santer terdengar.

“Ingat tokomu yang di China, Lu.”

“Tentu saja. Tentu saja aku ingat terus. Tapi aku sudah berjanji pada suamiku untuk merintis usaha ini bersama-sama. Dia sudah sangat baik padaku.”

“Apakah pamanmu kurang baik padamu?”

“Bukan begitu. Paman dan Bibi adalah orang tuaku juga. Tapi mohon bi. Kali ini saja beri aku ksempatan untuk mencoba, ya, mencoba memajukan bisnis bersama suamiku.”

Bibi Chen An dan Lin pun berpamitan tak lama kemudian. Mereka tak ingin menemui Chu di saat-saat seperti ini.

Rupanya, Tuan Chu sedang mengadakan pertemuan di rumah salah satu tokoh drama. Kesempatan itu digunakannya untuk bertukar pikiran.

“Tuan Chu, tak ada yang meragukan kemampuan anda menata sandiwara. Tapi cara anda memilih pemeran dan juga ceritalah yang patut anda cermati ulang.” Kata Mpu Tira.

“Maaf? Apakah saya berbuat kesalahan?”

“Bukan masalah benar atau salah. Perlu diingat bahwa orang-orang di sini bukan hanya keturunan China. Ceritanya juga terlalu Timur.”

Tuan Chu terdiam, merenungkan perkataan Mpu Tira. Ia pun nerterima kasih lalu segera pulang. Ia membicarakan hal tersebut dengan Nona Lu.

“Aha. Bagaimana kalau kita spesialisasi cerita komedi. Belum ada bukan?” Nona Lu memberikan ide.

“Sudah ada.”

“Tapi mana? Komedi hanya untuk selingan. Sedangkan kita, kita akan buat penonton tertawa dari awal hingga akhir.”

Tuan Lu beranjak dari duduknya, mnghadap ke jendela.

“Benar juga. Ayo, kumpulkan orang! Ajak anak-anak pribumi dan yang lain juga.”

Lalu, mereka merintis lagi usaha pementasan drama dari awal. Berbulan-bulan mereka mencari formula yang pas untuk konsep komedi mereka. Setelah siap, mereka mengadakan pentas perdana yang gratis. Tepat saat malam tahun baru Imlek, sandiwara komedi pertama pun digelar. Lambat laun, banyak penonton terpukau dengan aksi jenaka para pemain. Nona Lu dan Tuan Chu pun sepakat menamai teaternya “Lu Chu.”

Kesuksesan mereka terdengar hingga ke negeri asal mereka. Tak lama berselang, Nona Lu dan Tuan Chu hijrah kembali ke China. Nona Lu juga ingin menata kembali bisnis orang tuanya. Sepeninggal mereka berdua, teater “Lu Chu” dikelola oleh salah satu sahabat karib Tuan Chu yang asli Melayu. Lama kelamaan, istilah Lu Chu menjadi populer, bahkan digunakan untuk mendeskripsikan suatu kejadian yang mengundang tawa. Karena menyesuaikan dengan ejaan Melayu, kata itu sedikit diubah menjadi “Lucu.” Ya, lucu, sesuatu yang … lucu.

Anda percaya kisah di atas? Saya juga tidak. 😉

NB: Cerita ini 100% karangan dan bukan merupakan legenda.

Manuscript from Absurd Think-Ink

just a mixed bag of thoughts

Who knows what you're going to get!

Sun and Glory

to do. to see. to hear. to love

What an Amazing World!

Seeing, feeling and exploring places and cultures of the world

Global Art Junkie

A curated serving of the visual arts

BookPeople

Howdy! We're the largest independent bookstore in Texas. This is our blog.

101 Books

Reading my way through Time Magazine's 100 Greatest Novels since 1923 (plus Ulysses)

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

Amalia Fyodorovna

Manuscript from Absurd Think-Ink